Sudahlah, Jangan Dibaca! Nanti Tersinggung 2

Halo, nama saya Mew. Saya ini praktisi bunuh diri yang sampai sekarang masih hidup dan punya 17 ekor kucing.

Bukannya apa-apa ya, saya cuma mikir kalau bunuh diri itu sama kayak ngisi waktu luang.

Pernah pas SD.

Waktu itu masih kelas 2 SD. Sudah waktunya pulang sekolah. Karena jarak antara rumah dan sekolah enggak terlalu jauh, jadi kadang-kadang saya jalan kaki. Sepanjang perjalanan saya mikir, mau ngapain lagi ya?

Sekolah, sudah. Ngerjain PR, sudah. Main sama temen, sudah. Makan, sudah. Mati, kayaknya belum nih. Bunuh diri ahh...

Ya sesimpel itu saja.

Saking seringnya saya nyobain berbagai macam cara bunuh diri, saya sampai bikin tutorial yang bisa kamu baca di artikel saya yang lain di blog mewdavinci.com.

Di pergelangan tangan saya juga ada bekas sayatan. Beberapa bekasnya sudah pudar bahkan hilang. Semua luka itu saya dapetin setiap kali saya main sama kucing.

"Kucing! Ayo kita latihan Kungfu." Meong~ Sat set sat set! Hehehe.

Percobaan lainnya adalah pas saya menjajal metode yang umum disiarkan di surat kabar: Lompat ke jalan raya.

Saya juga gitu.

Lompat juga.

Eh, malah mobilnya berhenti. Trus saya dimarahin sama supirnya dan orang-orang sekitar. Dikatain anak setan. Anak monyet.

Denger itu, saya kesal dong.

Kok bisa sih?

Kok dia tahu kalau saya ini anaknya Sun Gokong dan istrinya, Klirin. Eh?! Bener gak sih nama istrinya, "Klirin"? Gak tahu saya. Hehe...

Mungkin dulu mereka nitipin saya ke orangtua saya yang sekarang ini, sebelum pergi mencari kitab suci dan sembilan bola naga.

Karena metode lompat ke jalan raya enggak berhasil sama sekali, saya mulai mikir lagi dong.

Gimana caranya ya?

Akhirnya, saya putuskan untuk jalan di rel kereta. Karena kebetulan arah dari sekolahan ke rumah memang melewati stasiun, jadi sekalian saja.

Saya jalan pelan-pelan. Sambil celingak-celinguk. Mana kereta ya?

Saya noleh ke belakang, belum datang.

Saya lihat ke depan, belum ada.

Stasiun makin jauh. Rumah semakin dekat.

Dalam hati saya tuh kayak ngerasa lama banget. Sehari bagai setahun. Setahun bagai seumur hidup.

"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan. Sayang engkau tak duduk di sampingku, kawan." Lirik lagu Berita Kepada Kawan, oleh Ebiet G. Ade.

Ternyata, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kereta!

Gak tanggung-tanggung. Kereta dua arah!

Saya masih berada di tengah-tengah rel kereta. Mau kabur gak bisa. Karena sebelah kirinya rel kereta itu jurang. Sebelah kanannya itu jalan raya yang ada penghalang dinding beton dan pagar jaring-jaring tinggi.

Orang-orang dari seberang jalanan sana yang menyaksikan detik-detik akhir hidup saya panik. Ada yang sampai teriak-teriak gini:

"YA ALLAH! YA ALLAH! BOCIL, YA ALLAH!"

Ada juga yang teriak gini, "lompat, nak, lompat!"

Ada juga yang sampai teriak minta tolong. Ada yang sibuk telepon sambil pasang wajah prengat-prengut. Ada yang ngevideoin. Foto-foto juga ada.

Saya?

Saya menyaksikan kereta yang terus melaju. Semakin lama makin dekat.

Lalu saya menatap langit dan berbisik, "ya Allah, sudah saatnya, ya?"

Saya mau kasih tahu satu hal dulu sebelum saya lanjutin ceritanya.

Dalam agama Islam, sebelum seorang muslim meninggal dunia, sebisa mungkin mengucapkan satu kalimat terakhir, yaitu syahadat. Kalau gak bisa, minimal menyebut nama Allah.

Saya juga melakukan itu. Dan ini ada moment yang gak akan pernah saya lupakan seumur hidup.

Saya bentangkan tangan saya, saya tarik nafas dalam-dalam. Trus saya mengucapkan kalimat terakhir saya sebagai seorang muslim.

"Tolong hamba, ya Allah."

***

Mau gak selalu bersamaku sampai akhir?


Tapi, sebenarnya ada satu hal yang saya gak habis pikir. Kenapa sih banyak orang di sekitar saya yang masih suka nge-underestimate-in pelaku bunuh diri?

Misalnya komentar dari guru saya sendiri. Dia seorang Guru lho. Yah, Guru Kungfu sih.

Waktu itu dia bilang gini, "kalau kamu memang pengen mati, tinggal usah makan atau minum. Seminggu. Sebulan. Setahun. Lama-lama juga mati."

Kok bisa sih dia ngomong gitu?

Padahal saya kan cuma mau mati. Bukan mau kena busung lapar.

***


Oke segini dulu cerita dari saya. Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Nama saya Mew, sampai jumpa di postingan berikutnya. Bye bye.

Komentar

  1. asli kaget Teh Mew, jangan mati dulu teh karena kita belum ketemu lagi hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh?! wejangannya mrinding-mrinding sejuk nih, mbak gioooo wkwkw

      Hapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?