Diary Kucing: Tiba-Tiba Ileran, Gak Bisa Minum Dan Hanya Makan Sedikit

Saya merasa sedih setelah melihat Si Klining, ibu kucing yang tabiatnya persis ibu saya, tiba-tiba sakit.

Awalnya, penyakitnya minor saja, pangkal ekornya berjamur di fase birahinya.

Saya gak mau menyalahkan siapapun ya, meskipun penyakitnya dimulai sejak dia sering dikawani oleh kucing siam tetangga, sampai akhirnya kawin.

Saat proses perkawinan mereka berdua, Klining sama sekali enggak nyaman ditunggangi oleh si dia, mungkin karena rasa gatal dan pedih di pangkal ekor yang disebabkan oleh jamur.

Akhirnya, saya bawa dia ke klinik kucing. Niatnya, pengen diperiksa, minta obat oles, sekalian dimandiin anti jamur.

Klining bukannya enggak pernah mandi, dia pernah dimandikan beberapa kali, walaupun terkahir kali mandi memang setahun yang lalu.

Tapi, namanya juga kucing, gak suka banget sama yang namanya air. Meskipun begini, kalau cuma dicipratin sedikit saja, ya dia biasa aja sih.

Selama proses dimandiin, kucing saya ini gak cuma nge-reog, tapi berubah jadi macan Biskuat. Mengaum! Melempar botol shampo, menampar, menendang, menggigit, dan ada banyak lagi aksinya.

Setelah kinclong, pas mau saya gendong, tiba-tiba ada air warna cokelat menetes keluar dari bandul klenengannya, lalu merembes ke bulu dada Klining. Dari situ lah, saya sadar, mereka tidak melepas kalungnya Si Klining saat mandi.

Waktu itu, saya pikir, itu tidak akan jadi masalah. Sekarang, saya mulai ragu-ragu, apa sejak itu? Apa gara-gara itu?

Sejak pulang dari klinik itu pun, 3 ekor kucing saya tiba-tiba kena bermacam-macam penyakit. Saya merasa kalut dan tidak berdaya.

Awalnya, dimulai dari si Mocheng. Kucing oranye berbulu panjang yang ekornya mirip kemoceng. Dia tiba-tiba sekali enggak bisa makan dan minum.

mocheng sudah sehati lagi, sembuh dari ileran, alhamdulillah


Padahal, Mocheng bukan tipe kucing yang pilih-pilih. Bahkan ikan tongkol kesukaannya pun enggak disentuh.

Saat haus dan lapar, dia akan mendatangi cawan makan dan minumnya. Tapi setelah itu, dia hanya diam terpaku.

Kadang dia cuma bisa menyaksikan saudara-saudara sepersusuannya makan dan minum dengan lahap di hadapannya. Yah, mirip nonton mukbang live di real life!

Di hari pertama proses pemulihan, saya lalui dengan membujuk Mocheng supaya mau makan sedikit saja. Saya berikan makanan kering yang persentase Fat-nya di atas 15%. Waktu itu saya kasih dia Bravery Herring.

Alhamdulillaah, walaupun hanya beberapa keping, Mocheng masih bisa makan. Tapi, dia masih enggak bisa minum.

Saya gak bisa membiarkan Mocheng seperti ini, jadi saya olesi sedikit madu di tepi bibirnya, setidaknya biar dia masih punya energi. Mumpung bapak dan ibu saya saat itu lagi umroh, saya ceritakan perihal kondisi Mocheng ke orangtua saya.

Sekitar 4 jam kemudian, Mocheng mulai memberanikan dirinya untuk mencicipi setetes dua tetes air, dan mulai makan dengan porsi yang lebih banyak. Tapi, hanya mau makan makanan kering. Dia masih belum mau makan real food.

Oh ya, ada cerita menarik soal kejadian sebelum Mocheng minum.

Awalnya, dia gak langsung minum. Pertama-tama, cawan air minumnya dikecek-kecek dulu sama si Mocheng. Persis anak kecil yang lagi mainan air.

Saat itu saya menduga, apa mungkin Mocheng enggan minum karena ada trauma? Jadi saya ikutan mengobok-obok airnya, berdua bareng dia. Sambil bilang ke dia: Airnya seger, ya? Hihihi. Tuh, lihat, enggak ada apa-apa, kan? Yuk, minum, sayangku.

Tingkahnya lucu banget!

Mungkin setelah dia memastikan bahwa semuanya aman, barulah Mocheng mau minum. Alhamdulillaah! Meskipun enggak banyak, seenggaknya adalah 2 - 3 kali jilatan.

Lalu, saya inisiatif mengganti air minum yang sudah kami berdua obok-obok itu dengan air segar.

Si Mocheng ngikutin saya dari belakang. Menyaksikan semua proses dengan kedua matanya sendiri. Setelah cawan minumnya terisi air segar, saya letakkan kembali di tempat biasa.

Perlahan Mocheng mendekati cawannya. Dilihatnya dalam-dalam. Diendus. Lalu diobok-obok lagi sama dia. Diendus lagi. Dan akhirnya, dia minum seperti kucing tersesat di padang pasir!

Setelah dahaganya berhasil terpuaskan, dia tidur siang.

Sayangnya, kebahagiaan ini enggak berlangsung lama. Karena sore harinya, tepat setelah dia bangun, saya melihat mulutnya berliur.

Lho? Kok? Jadi ileran? Apa dia mimpi lagi makan enak sepanjang tidur? Dan Mocheng kembali enggak enak makan dan minum seperti sebelumnya. Dia bisa makan, tapi enggak bisa minum.

Perih hatiku.

Saya buka YouTube. Cari informasi sebanyak-banyaknya.

Berdasarkan pengalaman cat parents di YouTube, kemungkinan besar Si Mocheng diduga sariawan. Kalau bahasa seremnya, kena virus calici. Tapi semoga bukan, ya. Semoga hanya penyakit ringan saja.

Ada berbagai macam solusi. Mulai dari pengobatan herbal alami hingga mengonsumsi obat-obatan kimia, mulai dari tablet hingga suntik.

Berdasarkan pengalaman saya, kalau kucing dibawa ke dokter, biasanya bakalan diresepin macam-macam obat, mulai dari antibiotik dan lainnya. Kucingnya gak mau minum obat, lalu dia bakalan jadi stress. Sehingga, mau seampuh apapun obatnya, gak bakalan berkhasiat.

Jadi, saya coba pakai cara herbal, berdasarkan saran dari cat parents di YouTube. Yaitu, pakai air kelapa ijo obat dan VCO. Dan, hasilnya, enggak manjur. Kucing saya makin ileran. Malahan, yang sebelumnya masih mau makan, jadi enggak mau makan sama sekali.

Saya nangis! Berdoa sebanyak-banyaknya agar kelapa ijo dan VCO-nya enggak menjadi penyakit, namun menjadi salah satu proses penyembuhan.

Keesokan paginya, saya coba olesi lagi madu ke bibirnya. Alhamdulillaah, beberapa jam kemudian, dia mau makan dan minum. Tapi seperti biasa, Mocheng mainan air dulu.

Tiap pagi, selama hampir seminggu, saya olesi madu. Sedikit saja. Sebesar biji jagung. Sekali sehari. Saya juga banyak berdoa. Alhamdulillaah, Mocheng berangsur-angsur membaik. Sekarang sudah pulih.

Maaf ya, enggak ada foto pas Mocheng lagi sakit. Semoga kamu tetap sehat, kuat, dan ceria ya, Mocheng.

Komentar