Cerita Kucingku: Tersinggung? Disomasi Kucing

Tulisan ini saya dedikasikan untuk orang-orang yang memelihara kucing betina dan sekarang punya baby kucing.

Kebodohan ini terjadi beberapa jam yang lalu. Hari Senin, tanggal 4 Desember 2023. Saat itu jam makan siang, sekaligus bertepatan dengan jadwal sholat Dzuhur. Cuaca berawan, mendung, namun udaranya kering.

Saat ini jam 2.30 pagi, mendekati waktu Subuh. Saya memutuskan menulis kegelisahan saya di blog mewdavinci.com. 


***

Pernah gak sih kamu menerka-nerka, apa sih yang paling dibutuhkan oleh seekor kucing betina yang sedang hamil, terutama jika ini merupakan pertama kalinya dia akan punya anak?

Perhatian? Kasih sayang? Rasa aman? Sandang, papan, pangan?

Saya kerap kali memikirkan ini. 

Apalagi ketika Klining, nama kucing saya yang berakhir bunting, sebentar lagi akan melahirkan. Sebisa mungkin saya kasih apapun the best of me versi saya. 

Di masa Si Klining hamil, saya tidak lagi panik seperti dulu karena ini saya sudah pernah merawat kucing betina yang lagi hamil dan pasca melahirkan selain Klining. Ada yang namanya Nago, kucing hitam putih seperti zebra. Lalu ada Bingsu, anaknya Si Nago.

Kemudian dari segi finansial pun, saya lebih mapan. Sudah mulai bisa membagi waktu dan harta secara seimbang. Balance.

Meskipun begitu, bagi Klining, apa yang dirasakan sekarang adalah pengalamannya yang pertama.


Lihat. Sayang. Ajak Kenalan.

Tadinya, saya hanya punya seekor kucing. Dia jantan. Namanya "Kucing".

Seleranya dalam memilih pasangan memang cukup nyentrik. Dia suka kucing-kucing bule, padahal dia cuma kucing kampung liar. Setelah beberapa kali patah hati, akhirnya dia bertemu dengan seekor kucing betina blesteran, warna oranye.

Si Kucing ngajak crush-nya ini untuk tinggal bersama di rumah kami. Di sinilah akhirnya mereka kawin.

Crush-nya Si Kucing dikasih nama "Klining".

Alhamdulillah, Si Kucing adalah pejantan yang setia dan cukup protektif. Jadi, dia enggak pernah sekalipun membiarkan kucing betina lain mendekati dirinya.

Jangankan selingkuh sama cewek lain, siapapun yang berani menginjakkan di wilayah Si Kucing langsung diajakin gulat.

Berbeda dengan Klining yang ramah dan suka membantu. Saking baiknya, ketika Si Kucing lagi adu jotos sama kucing jantan lain, Si Klining nolongin dengan cara nge-plak-in suaminya sendiri.

Kalau sudah gitu, Si Kucing kan jadi bingung ya? Moment bergulatnya saat itu jadi penuh polemik. 

Coba saja kamu bayangin, Setiap kali Si Kucing mukul lawannya, istrinya Si Kucing bakalan mukulin dia. Kalau dia mukul Si Klining, kan jadi KDRT? Tapi kalau dia memilih untuk berhenti di tengah-tengah pertarungan, maka lawannya akan menganggap Si Kucing kalah, padahal selama ini dia adalah champion.

Kalau dipikir-pikir, mereka berdua adalah pasangan yang seimbang dan saling melengkapi, seperti Yin dan Yang. Keseimbangan antara hitam dan putih yang luwes dan mengalir dengan batasan yang tegas. 

Putih tapi tidak sepenuhnya putih, ada setitik hitam di dalamnya. Hitam juga tidak sepenuhnya hitam, ada setitik putih di dalamnya. Hal yang setitik itu pun, memiliki porsi yang cukup, sehingga ada harmoni yang indah.

Jadi ngomongin Yin dan Yang, deh. Oke, balik lagi ke kucing-kucing saya.

***

Selama Si Klining hamil, saya betul-betul memperhatikan asupan gizinya. Makan ikan segar, camilan dari Happy Cat, dan juga beberapa potong ikan tongkol yang dimasak seperti ikan rebus / kukus.

Saya pastikan wadah minumnya selalu terisi air minum segar yang cukup. Diganti setiap hari. Begitu pula dengan wadah makanannya, saya usahakan selalu penuh, agar dia enggak cemas memikirkan stok makanan. Jadi kucing-kucing saya bisa makan dengan perasaan lega dan enggak terbebani.

Sampai akhirnya Si Klining melahirkan.

***

Bagi saya, itu adalah pengalaman ketiga. Sedangkan bagi Si Klining yang masih muda dan baru saja beranjak dewasa, itu adalah moment melahirkan pertamanya. Pertama kalinya menjadi seorang ibu.

Mereka punya 3 anak. 2 jantan dan 1 betina.

Ada 1 ekor jantan yang coraknya mirip sekali dengan papanya, saya kasih nama "Anak Kucing". Kemudian seekor lagi memiliki corak yang mirip sekali dengan mamanya, namanya adalah "Anak Klining".

Sisanya, seperti perpaduan keduanya. Ibarat kopi dan susu dituang ke gelas yang sama, lalu diaduk. Jadi berubah menjadi kopi susu. Nah, itulah Moceng.

***

Pada fase pertama pasca melahirkan, menjadi peristiwa yang menyenangkan bagi kami semua. Sekaligus mendebarkan.

Beberapa kali saya sering bentrok dengan keinginan Si Klining.

Sebagai ibu manusianya, saya ingin Klining dan anak-anaknya tinggal di tempat yang lebih besar dan jauh dari mobil atau mesin-mesin lainnya.

Tapi, sebagai ibu yang berwujud seekor kucing, Klining ingin tinggal di tempat yang enggak jauh dari saya sebagai pemberi makan. Dia berpikir, tempat saya tinggal dengan nyaman, dan tidur dengan nyenyak adalah lokasi yang akan memberikan kenyamanan dan keamanan yang sama kepada dia dan anak-anak.

***

Ketika Klining keras kepala, saya juga keras kepala. Jadi, adu keras saja. Dan sering kali, Si Klining yang akhirnya mengalah.

Sebagai gantinya, saya turuti apapun yang dia mau.

Mau ikan? Siap! Langsung Gofood.

Mau camilan? Siap! Langsung tuang.

Lantai becek? Siap! Langsung dipel sampai kinclong, wangi, dan kering.

Lantai dingin? Jangan kuatir! Ada karpet.

Pokoknya, saya kasih apapun yang dia butuhkan, sebagai ganti dari menuruti keinginan saya.

Sampai suatu hari. Kemarin siang, insiden itu terjadi. Ketika anak-anak kucing sudah mulai suka lari-lari dan banyak tidur di kolon mesin mobil.


Kronologis

Sebagai gambaran, saya tinggal di rumah kakak perempuan saya yang sudah menikah. Kakak ipar saya, punya 3 mobil.

Saat itu, di siang hari. Kakak ipar saya harus pergi untuk menjemput putrinya pulang sekolah. Kita bisa sebut sebagai keponakan saya.

Karena beliau terburu-buru, saya jadi terlambat beberapa detik untuk mengecek apakah semua anak kucing masih lengkap atau tidak.

Waktu saya turun, yang saya lihat hanya seekor. Yaitu, Si Anak Kucing. Masih inget, ya, yang mana?

Sedangkan sisanya, enggak kelihatan meskipun sudah saya cari dan panggil-panggil.

Mamanya anak-anak kucing, ada di teras lagi tiduran. Sedangkan, papanya baru saja pulang.

Saya jadi panik.

Saya ngomel-ngomel ke Si Klining, dan menganggap dia tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak. Saya lontarkan kata-kata kejam itu ke dia dan menyuruh dia untuk mencari anaknya yang saya duga hilang, sampai dapat.

Dan itu, adalah pertama kalinya Klining melihat saya marah. Dan dia pun ketakutan.

Beberapa saat kemudian, akhirnya diketahui bahwa semua anak kucing ternyata masih ada di rumah, dan lengkap.

Tapi, sudah terlambat. Si Klining sudah pergi meninggalkan rumah. Mungkin sedang mencari anaknya. Dan dia pergi pun, dalam keadaan hamil season kedua.

***

Meskipun kejadian tersebut terjadi beberapa jam yang lalu, saya sudah menyesali banyak hal.

Saya berpikir, selama ini, sebenarnya Si Klining sudah berusaha menjaga anak-anaknya dengan sangat baik. Meskipun masih ada banyak keterbatasan karena ini pun pertama kalinya dia punya anak.

Saya bisa tidur nyaman, makan enak, pergi main tanpa kuatir dari pagi sampai malam, semuanya karena Klining mengurus anak-anaknya dengan baik.

Ketika malam hari, semua manusia di komplek ini tidur. Dia terjaga. Kadang menyusui anak-anaknya. Kadang berburu binatang kecil dan liar, agak bisa dibawa pulang dan diberikan kepada anak-anaknya.

Kalau ada anaknya yang lari terlalu jauh dan terlalu cepat, yang mengejar dan menenangkan, adalah dia.

Saya. Sehebat apapun manusia, ternyata tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh binatang. Saya tidak bisa menggantikan tugas Si Klining untuk menjaga anak-anak kucing kami.

***


Klining, ayo pulang, yuk


Harusnya, saya bisa lebih menghargai usahanya itu. Harusnya saya melihat semua hal yang sudah dia korbankan selama ini. Harusnya saya memikirkan ada banyak hal yang dia curahkan sampai dia sendiripun merasa lelah dan kesulitan.

Saat itu saya marah sekali dan bersikap seakan-akan dia tidak pernah becus melakukan semuanya. Saya menganggap Si Kucing yang notabene adalah bapaknya anak-anak lebih bisa diandalkan daripada Si Klining, ibunya. Ibu yang sudah menjaga ketiga anaknya selama 48 jam sehari.

Ibu yang tidak bisa makan dengan benar. Tidak pernah nyaman dalam tidurnya karena secara naluri menjadi selalu waspada. Setiap makan sesuap, dia selalu mengawasi lokasi bermain anak-anaknya. Ketika dia makan makanan yang menurutnya lezat, dia ingin membawa pulang makanan itu agar anak-anaknya juga bisa mencicipi.

Seekor ibu yang memikirkan anaknya setiap waktu. Dia menyusui walaupun kecapekan. Dia pernah berlari menyusul anaknya yang hampir kabur ketakutan secepat dia bisa sampai bantalan kakinya luka dan berdarah. Dia yang mengajari anak-anaknya berburu dan bersosialisasi dengan makhluk hidup.

Sedangkan saya?

Mata hati saya benar-benar buta. Congkak sekali saya berpikir kalau saya bisa bekerja lebih baik dari dia yang seekor kucing, betina, dan menjadi ibu. Tidak hanya itu, dia juga seekor istri bagi Si Kucing, kucing jantan saya.

Semoga saja Klining mau pulang lagi ke rumah ini, bertemu dengan ketiga anaknya, bermain lagi dengan saya, dan mau hidup bersama lagi dengan suaminya "Si Kucing" di rumah ini. Semoga masih ada kesempatan bagi saya yang tolol dan congkak ini untuk memperbaiki hubungan kami. Memperbaiki segalanya.

Saya pun kini bisa berpikir bahwa ibu kandung saya yang masih hidup sekarang, pasti mengalami kesulitan lebih banyak dibandingkan saya. Karena beliau juga seorang ibu. 

Dan hanya karena saya tidak pernah menjadi seorang ibu, saya memandang dunia saya dengan idealisme yang tanpa saya sadari sudah menghilangkan akal budi saya. Saya kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan benar dan bertindak dengan tepat.

Bedanya adalah... Klining adalah seekor ibu bagi anak-anak kucingnya. Dan Ibu saya adalah seseorang yang sepantasnya saya pandang berharga dan bernilai bagi saya yang berwujud manusia.

"Klining, apa bisa kamu berikan kesempatan untukku merawat kamu lagi?"


Update 5 Desember 08.19 WIB:

Alhamdulillah, Si Klining sudah ngumpul lagi sama anak-anak dan suaminya. Dia muncul dari tempat tidak terduga. Ibu saya yang menemukannya.

Sungguh kasihan, begitu bertemu kembali dengan saya, dia langsung minta makan. Makan dan minumnya juga banyak sekali, seperti sangat kelaparan. Syukurlah dia tidak mati karena tanpa sepengetahuan siapa pun, selama hampir 24 jam, dia terkurung di.......

Komentar

  1. Alhamdulillah ketemu kucingnya ya teh, jangan dimarahin lagi ya 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya nih mbak, alhamdulillaah sudah ketemu lagi, saya belajar banyak banget jadi enggak marah-marah lagi ke dia 😄😄😄

      Hapus
  2. Inilah yang ku sebut insting. Naluri. Naturally.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada manusia yang cepat memahami sesuai lewat kisah-kisah, dan ada juga yang harus mengalami dulu, baru mengerti

      Hapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?