Bosan Shopping Di Indonesia?! Belanja Di Amazon Gratis Ongkir Ke Seluruh Dunia

Jadi, ceritanya, beberapa hari yang lalu saya shopping di Hongkong. Tapi online. Bayarnya pakai kartu debit buatan orang Indonesia, yang kalau saya sebut namanya, semua orang pasti belum tentu tahu.

Oh ya, kalau kamu pernah belanja online di Shopee, Tokopedia, Alfacart, atau Bukalapak, mestinya gak bakalan asing dengan cara pembayarannya. Proses yang serupa juga sebenarnya berlaku ketika kita berbelanja di Instagram, Facebook, WhatsApp, dan BBM.

Tapi, buat saya, shopping di toko kelontong dalam negeri itu biasa. Kenapa? Karena toko-toko di Indonesia itu, biasanya menjual barang yang itu-itu saja. Jadi pilihanya sedikit. Yang membedakan antara toko satu dengan yang lainnya hanyalah masalah persaingan harga.

Akhirnya, untuk pertama kalinya saya mencoba sesuatu yang baru. Yaitu, berbelanja di online shop luar negeri. Saya mainnya jauh sampai ke Amazon.

Amazon itu apaan sih?

Btw, Amazon yang saya maksud di sini bukan nama sungai di Amerika Selatan. Yang konon katanya, banyak ikan piranhanya. Jadi, jangan bayangin yang kocak-kocak, ya.

Kalau kamu belum pernah dengar toko online Amazon, saya bisa bantu kasih gambaran. Jadi, Amazon itu ibarat virtual mall. Atau pasar modern yang cuma bisa kita kunjungi di Internet. Bahasa kerennya, "marketplace".

Dia sama seperti Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Blibli, dan marketplace lainnya di Indonesia. Hanya saja, Amazon ini sudah masuk level internasional. Jadi, kelasnya setara dengan Alibaba, eBay, Walmart, Airbnb, Forever 21, dan JD.

Nah! Mereka semua itu, juga termasuk saingan atau kompetitornya Amazon, marketplace yang saya kunjungi secara virtual.

Oh ya, sebelum kamu lanjut nge-scroll ke bawah, kamu juga bisa mendengarkan cerita saya di podcast Radio Mewdavinci. Caranya gampang! Klik saja tombol Play di bawah ini. Dan selamat mendengarkan.



Apa bedanya dengan berbelanja di IG, FB, atau WA?

Ternyata, ada perbedaan yang cukup mencolok antara berbelanja di media sosial/chatting platform dengan ketika kita mau beli barang di marketplace. Tadi, saya sudah jelasin ya, apa itu marketplace, dan bagaimana wujud marketplace ketika dibawa ke dunia nyata.

Amazon itu ibarat virtual mall. Atau pasar modern yang cuma bisa kita kunjungi di Internet. Bahasa kerennya, "marketplace".

Waktu saya masih belajar dagang di Instagram dan Facebook, --hmmm yaaa, sebenarnya sih sampai sekarang saya juga masih belajar gimana caranya jadi seller yang baik dan menyenangkan, saya baru tahu kalau ada tipikal pembeli yang minta barangnya di keep dulu.

Maksudnya gini, dia pengen beli suatu produk yang dijual di toko kami, tapi minta disimpankan dulu. Nanti, pas dia punya duit yang cukup buat ngelunasi pembayarannya, atau dia punya kesempatan untuk bayar full, dia bakalan balik lagi.

Nah! Yang sering terjadi adalah saya, sebagai pedagang, gak tahu kapan persisnya si calon pembeli itu bakalan balik lagi buat ngambil barangnya. Dan, sekalian bayar juga.

Kalau saya beri kelonggaran keep tanpa uang muka (down payment), berarti boleh dong saya kasih batas waktu pelunasan hanya 1-2 hari saja. Masalahnya, dimulai ketika dia bayar dp-nya.

Biasanya pelanggan yang bayar dp, dia juga minta produknya itu disimpan dalam jangka waktu yang dia tentukan, sekaligus menginformasikan kenapa kayak gitu (alasannya).

Tipikal pembeli minta keep ini juga terbagi-bagi. Ada yang tipenya, cepat dan tepat. Ada yang sangat berserah diri. Seakan-akan dia mau bilang, apa yang akan terjadi, terjadilah. Mungkin ini juga yang bikin dia bisa minta di-keep sampai berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun.

Btw, ada satu kejadian dimana ada customer yang minta keep sampai melewati 2x lebaran haji.

Uniknya orang ini, pas dia balik lagi buat melunasi pembayarannya, dia cancel hampir semua barang dari daftar orderannya, dan disisakan 1pc saja. Habis itu baru dibayar. Itu pun, dia minta diganti dengan keluaran terbaru.

Kalau di Amazon, boleh keep dulu gak?

Sebenarnya, berbelanja di platform khusus jual-beli, seperti Amazon, eBay, Alfacart, Shopee, Tokopedia, dan lain-lain, gak terlalu jauh beda dengan shopping di Instagram, Facebook, WhatsApp, dan BBM.

Yang membedakan hanyalah rasa aman dan nyaman.

Belanja di Amazon, seakan-akan kita lagi shopping di mall yang ada security atau satpamnya. Semua pedagangnya dipaksa ramah. Tokonya terpaksa harus memberikan performa terbaik biar bisa memperoleh label trusted seller.

Sedangkan belanja di IG, FB, dan WA, seperti membeli produk teman kita sendiri. Bisa nawar, boleh ngutang, dan bisa minta keep --pakai dp. Terus, pas mau ngambil barang, kita minta ganti sama produk terbaru yang harganya sama.

Saya ngomong gitu, bukan berarti di Amazon atau marketplace lainnya gak bisa minta keep atau gak ada sistem keep orderan, ya. Bisa kok. Dan boleh-boleh saja.

Hanya saja, karena proses kerjanya sudah diatur oleh robot yang diprogram sedemikian rupa. Sehingga, aktivitas semacam itu jadi ada batasannya. Punya aturannya sendiri. Memiliki rule yang jelas dan tegas.

Seberapa aman belanja di Amazon?

Yaaa, yaa, ya... Pasti ada dong pertanyaan semacam ini. Karena penipuan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, sekalipun sistem keamanan sudah dirancang dan diterapkan serapi mungkin.

Pernah dengar penipun yang dilakukan oleh salah satu Star Seller Shopee?

Saya pernah ditipu oleh seller kampret di Lazada. Bahkan, parahnya, Lazada tidak mau menjadi penengah dan malah ikut-ikutan menuduh saya. Setelah itu, mereka bersikap innocent.

Kejadian semacam itu terjadi di negeri sendiri. Pelakunya orang Indonesia. Korbannya Warga Negara Indonesia. Tokonya juga di Indonesia.

Sekarang pertanyaannya adalah, gimana dengan platform asing? Yang tokonya pun berada di luar negeri? Gimana kalau seandainya barangnya rusak? Kalau kita complain, mereka ngerti bahasa Indonesia gak? Kalau mau telepon, gimana? Ada cabangnya di Indonesia gak?

Well, gak ada hal di dunia ini yang 100% bisa dipercaya, sekalipun itu diri kita sendiri.

Tapi, dengan bertransaksi menggunakan platform yang menawarkan regulasi lebih jelas, menurut pandangan saya akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan berbelanja di tempat-tempat yang sebenarnya gak didesain untuk mendukung kegiatan itu.

Bisa bayar pakai VCC?

Tunggu, tunggu...

Sebelum kita ngomongin panjang lebar soal VCC. Saya mau ngejelasin dulu kalau Amazon ini sebenarnya hanya menerima dan mengakui 4 metode pembayaran, yaitu:
  • Menggunakan kartu kredit,
  • pakai kartu debit, 
  • lewat Amazon Payment Code yang bisa kita peroleh di bank-bank atau kantor pos yang buka layanan Westren Unioin (WU),
  • yang terakhir, bisa juga pakai silver card dari Amazon.

Bagaimana dengan Gift code Amazon? Hmmm... Bisa juga sih kalau mau redeem gift code-nya. Walaupun, harga gift code yang dijual di Indonesia gak beda jauh dengan total pembayaran ketika kita menggunakan jastip (jasa titip).

Setelah saya mencari informasi ke sana-sini, seperti membaca banyak keterangan di berbagai tempat dan menonton beberapa video tentang gimana caranya bayar orderan di Amazon. Akhirnya saya mulai bergerak. Saya cobain satu demi satu. Dimulai dari menggunakan kartu kredit.

Fyi, but not fya. Seumur hidup saya, saya belum pernah punya kartu ngutang. Walaupun, semasa muda dulu memang banyak utangnya juga sih. Lebih tepatnya, minta traktir berkedok ngutang.

Well, itukan masa muda. Biasalah anak muda. Sekarang saya jadi orang yang ngetraktirin teman-teman saya. Apa saja yang mereka mau makan dan minum, tinggal ambil. Bebas! Saya yang bayarin --sambil bilang: utangnya lunas ya.

Okei, jadi karena saya gak punya kartu kredit. Akhirnya, saya membuat VCC (virtual credit card).

Di BNI Syariah, bank yang saya gunakan untuk menabung, menyediakan layanan pembuatan VCC secara online. Dan ini gratis. Bahkan sama sekali tidak akan memotong saldo saya, ketika tidak ada transaksi di VCC-nya.

Sekarang pertanyaannya adalah, kita bisa ngapain saja dengan VCC ini?

Sekedar informasi, virtual credit card pertama kali dipopulerkan di Indonesia oleh joki-joki VCC yang beredar di forum-forum gaul seperti kaskus. Di beberapa kasus, kita juga bisa bertemu dengan mereka di kakus.

Tujuan dilahirkannya VCC sebenarnya buat belanja online di merchant-merchant luar negeri. Tapi, sebagian besar netizen di Indonesia menggunakan VCC untuk memverifikasi akun Paypal dan Skrill. Dan saya adalah salah satu dari netizen tersebut.

Berangkat dari situ, saya mencoba memakai VCC untuk berbelanja di Amazon. Alhamdulillah, gagal. VCC saya ditolak.

Dari pengalaman ini, akhirnya saya tahu bahwa VCC (virtual credit card) menjadi tidak berguna ketika kita mencoba menggunakannya untuk berbelanja di Amazon, baik di akun Amazon biasa maupun Amazon Prime.

Supaya bisa shopping di Amazon, kita membutuhkan kartu fisik. Mau itu kartu kredit atau kartu debit, kita harus punya kartu aslinya. Soalnya, sistem mereka akan menolak semua virtual card. Atau, kartu yang tidak memiliki bukti fisik.

Akhirnya, saya coba pakai kartu debit

Dengan pengalaman ngutang saya di masa muda, saya jadi tahu kalau punya utang itu gak enak. Itu sebabnya, saya tidak mau, dan tidak akan pernah mau untuk memiliki bahkan membuat kartu ngutang (credit card). Kecuali, virtual credit card.

Artinya, sekarang Plan B-nya adalah membayar tagihan saya di Amazon pakai kartu debit. Tapi gimana caranya?

Pada kenyataannya, waktu itu saya gak berpikir sampai serumit ini sih. Saya kira tinggal input data-data kartu, habis itu beres deh. Tapi ternyata, tetap ada beberapa proses yang harus dilalui. Salah satunya adalah merasakan kegagalan.

And I believe, saya percaya bahwa kegagalan adalah unsuccesful.

Belanja online di Amazon pakai kartu debit

Untuk pembayaran menggunakan kartu kredit, kita bisa menggunakan credit card berlogo Visa, Master Card, China UnionPay, JBC, Discover, Diners Club International, dan American Express.

Tapi khusus kartu debit, saat ini Amazon hanya menerima kartu berlogo Visa. Jadi, untuk saya yang merupakan nasabah BNI Syariah dan tetap ingin berbelanja menggunakan debit card, berarti saya hanya punya 2 pilihan, yaitu pakai kartu debit BCA atau pakai kartu Jenius.

Terus terang, kedua opsi tersebut termasuk pilihan yang gampang-gampang rumit, saat itu. Kenapa? Karena pertimbangannya gini ya teman-teman...

Kalau saya pakai kartu debit BCA, artinya saya harus buka rekening di BCA. Walaupun sebenarnya, bisa saja saya pinjam debit card milik orangtua atau kakak-kakak saya, tapi kan itu juga gak menjamin tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Ya, kan?

Jadi pilihannya tinggal satu, yaitu pakai kartu debit Jenius. Sayangnya, saya gak bisa bikin akun Jenius. Gara-gara KTP-nya hilang. Akibatnya, setiap 6 bulan sekali saya harus ke kantor kecamatan buat update KTP resi / KTP sementara.

Sekedar informasi, kalau kamu gak tahu kayak apa KTP resi. Saya tunjukkan bentuk fisiknya melalui foto di bawah ini. Jadi, yang disebelah kanan itu, KTP asli, dalam bentuk kartu ya. Dan yang di sebelah kiri itu, KTP resi, dicetak di kertas HVS ukuran A4.

Perbedaan KTP resi dan KTP asli

Oke, balik lagi ke topik. Gara-gara saya hanya punya KTP sementara, submisi saya ditolak pihak BTPN Jenius. Singkatnya, selama saya belum memiliki KTP berbentuk kartu, saya hampir mustahil buat saya bikin akun Jenius.

Kecuali, saya datang langsung ke counter Jenius.

Di sana mereka akan mencoba membantu dengan cara meng-inject KTP resi saya pakai printer khusus mencetak id card. Dengan kata lain, mereka akan menyulap KTP saya dari kertas HVS menjadi kartu. Tapi bukan KTP palsu ya.

Fakta menarik: Amazon hanya menerima kartu fisik. Sistem mereka akan menolak VCC. Selain itu, kartu debit yang diterima hanya yang berlogo Visa.

Setelah 2 tahun menunggu, akhirnya saya memperoleh dua kartu kehidupan. KTP saya dicetak dalam bentuk kartu dan saya bisa dapat kartu debit Jenius. Itu semua terjadi di hari yang sama. Alhamdulillah.

Nah! Sekarang kan, saya sudah punya kartu debit berlogo Visa. Selanjutnya ngapain?

Saatnya belanja!

Akhirnya, kita masuk ke pembahasan utama. Tapi, sebelumnya saya mau disclaimer dulu ya.

Semua yang saya ceritakan di sini, mungkin tidak dialami oleh semua orang. Kalau kamu juga mengalami ini, mungkin curhatan saya kali ini merupakan jawaban atas berbagai macam pertanyaan kamu.

Cara bayar tagihan Amazon pakai WU Amazon PayCode

Setelah saya memperoleh kartu Jenius berlogo Visa, malam harinya, saya langsung mencoba bertransaksi di Amazon. Saya beli stylus produksi Green Bulb, mereknya Sonar Pen. Harganya $34.00USD. Kalau dikonversi ke Rupiah, saat itu sekitar Rp500ribuan.

Proses belanja online di Amazon ini sederhana, yaitu:
  1. Pertama-tama, pilih produk yang ingin di beli, 
  2. Lalu klik tombol Buy atau Add to Cart,
  3. Klik tombol Check Out,
  4. Terakhir, karena sebelumnya saya sudah mengisi metode pembayaran dan alamat penerima paket, maka saya tinggal klik tombol Process Now.
  5. Selesai deh!
Tapi, uniknya di sini, saya sama sekali tidak diminta untuk memasukkan kode verifikasi kartu (CVC). Harusnya kan dimintain ya? Soalnya, gimana caranya Amazon nge-debet uangnya kalau dia gak tahu CVC saya.

Saya rasa asumsi saya ini normal, karena beberapa kali saya belanja online (walaupun produk digital), saya selalu diminta mengisi CVC.

Karena saya bingung, saya cari artikel dan video di YouTube yang membahas tentang step by step berbelanja online di Amazon.

Umumnya, sepanjang durasi video-video tersebut. Mereka hanya menampilkan proses pilih-pilih produk, lalu check out, dan tiba-tiba mengucapkan terima kasih sudah menonton.

Selain itu, kebanyakan orang Indonesia cenderung berbelanja di Amazon menggunakan website jastip (jasa titip belanja online), alias orang ketiga. Dengan kata lain, sebenarnya, mereka itu minta dipesankan oleh orang lain yang bisa bertransaksi di Amazon.

Jadi, mereka tidak mengalaminya secara langsung.

Satu-satunya video yang saya temukan dibuat oleh YouTuber India. Di video itu, dia menunjukkan step by step berbelanja di website Amazon pakai kartu debit berlogo RuPay.

Di menit-menit terakhir, ada adegan dimana dia memasukkan 16 digit nomor kartu debitnya dan CVC yang tertera di belakang kartu.

Kalau dibandingkan sama pengalaman pribadi saya, saya tidak mengalami proses memasukkan CVC.

Mayoritas YouTuber dan Blogger di Indonesia berbelanja di Amazon dengan memanfaatkan jastip (jasa titip) atau orang ketiga.

Gara-gara satu perbedaan saja, saya berulangkali memesan produk yang sama lalu membatalkannya begitu saja. Bahkan saya sengaja menghapus metode pembayaran dan alamat rumah saya, lalu order lagi. Dan cancel lagi.

Sebenarnya, saya hanya ingin terlihat "normal" seperti pembeli di YouTube.

Seandainya kamu tahu. Menjadi spesial itu gak selalu enak. Di sini saya sedih. Saya seperti alien. Kalau gak percaya, jangan dicobain. Nanti kamu sedih. Saya gak mau lihat kamu sedih. Saya ingin kamu merana! Hehehe. Bercanda.

Uniknya, Amazon sama sekali tidak menanyakan 3 digit kode verifikasi kartu debit saya (CVC).

Tapi, kabar bagusnya, pengalaman saya ini konsisten ya. Saya tetap saja tuh gak dimintai CVC apapun yang terjadi. Akhirnya, saya memutuskan untuk menelepon call center Jenius. "Halo, dengan cs Jenius, apa yang bisa kami bantu?"

Pertama-tama, saya perkenalan dulu dong. Habis itu, saya konsultasikan apa yang menjadi problematika kehidupan saya.

"Mas, saya kan baru punya kartu Jenius, nih. Kartu ini mau saya pakai buat belanja di Amazon. Tapi, waktu saya input data-data kartu, saya dapat email dari Amazon yang menginformasikan kalau saya salah memasukkan alamat yang terdaftar di kartu debitnya."

Saya diam sebentar. Ngasih jeda sekalian ambil nafas. Trus, saya lanjut lagi, "Mas, di aplikasi Jenius kan ada alamat korespondensi, kira-kira tanda baca yang ada di situ berpengaruh gak sih ke alamat yang saya inputkan ke Amazon?"

Sebelum pertanyaan saya dijawab, layaknya cs pada umumnya, dia menyebutkan kembali inti pembicaraannya. Setelah dia selesai mengulang kronologis cerita yang cukup panjang itu, dia ngomong, "Maaf, Kak..."

Sepengalaman saya, kalau seseorang memulai kalimatnya dengan permintaan maaf, biasanya sambungannya kampret. Oke, saya lanjut ya.

"Maaf, Kak..."

"Oo iya, gak apa-apa. Gimana, Mas?"

"Kakak mau saya panggil 'Kakak' atau 'Ibu'?"

Benar, kan? Lanjutannya kampret. Sudah kuduga.

Jujur ya, saya ditanyai kayak gitu kan jadi merasa seolah-olah harus ada batas yang jelas di antara kami. Sebenarnya, dia ini kenapa sih? Mau bikin sisterszone? Familyzone? Astaghfirullah, hehehe.

Apa suara saya memang sudah setua itu? Sampai dia bingung: ini yang nelepon emak-emak apa bukan? Jangan-jangan setiap hari dia bawa matic. Trus, kalau belok kanan, malah sen kiri.

Ya Allah, Ya Rabbi... Padahal kan, saya enggak muda-muda amat buat dipanggil ibu. Harusnya, dia panggil saya tante atau nenek. Inisiatif dong! Dasar cowok gak peka.

Oke, lupakan! Kita langsung ke poin-poin pentingnya.

Kesimpulannya, tanda baca pada alamat korespondensi yang terdaftar di Bank BTPN (Jenius), semestinya tidak terlalu mempengaruhi alamat yang diinputkan di Amazon. Tapi ya memang penulisan alamat penagihannya harus sama.

Karena saya sudah berkali-kali mencoba menggunakan alamat yang berbeda dengan alamat penagihan kartu, hasilnya selalu invalid. Hanya saja, seperti yang saya bilang tadi, tanda bacanya tidak mempengaruhi.

Kemudian, poin kedua. Karena kartu debit Jenius saya masih baru dibuat sekitar 4 jam yang lalu. Jadi, saya harus menunggu maksimal 48 jam. Karena sistem dan pihak bank masih memproses data-data saya.

Sehingga, fasilitas yang aktif hanyalah untuk menerima dan mengirim uang (transfer) dari bank dalam negeri saja. Sedangkan, untuk aktivitas berbelanja online atau transaksi luar negeri, prosesnya butuh waktu lebih lama. Artinya, saya harus sabar menunggu.

Poin ketiga. Sebaiknya, rekening sudah diisi saldo minimal Rp75.000 (tujuh puluh lima ribu rupiah) biar Amazonnya bisa bikin transaksi pancingan. Karena dari situ, mereka akan tahu apakah kartunya aktif atau tidak. Dan, informasi yang kita masukkan sudah valid atau belum.

Sejak percakapan kami di telepon saya berniat untuk membuka kembali aplikasi online shop Amazon 2 hari kemudian. Artinya, saya bakalan balik lagi hari Jum'at.

Karena hari sudah malam juga, jadi mending saya tidur saja.

Saya masuk kamar mandi, wudhu, keluar kamar mandi, lalu masuk kamar tidur, berbaring di kasur, saya penjamkan mata, dan... Gak bisa tidur!

Saya masih kepikiran tentang kenapa saya berbeda? Apakah ini suatu keistimewaan?

Kenapa orang India itu punya kolom buat masukin CVC, sedangkan saya cuma ditanyain nomor kartunya saja? Apa iya ini normal (buat saya)?

Banyaknya pertanyaan di kepala saya membuat saya merasa lelah. Dan, tidur adalah jawaban terbaik.

Keesokan paginya, sekitar jam 2an, saya bangun lalu tahajjud seperti biasa. Setelah semua ritual pemujaan beres, saya kirim email ke Amazon bermodalkan bahasa Inggris yang pas-pasan.

Buat saya, sekedar curhat ke cs Jenius dan Allah itu gak puas, Saya pengen Amazon tahu apa yang saya alami. Kalau perlu, semua orang di dunia ini tahu perasaan saya saat itu.

Setelah curhat melalui email, saya pikir mungkin saya bakal dicuekin karena mereka gak ngerti apa yang saya omongin. Jadi, saya memilih untuk melupakan kejadian barusan.

Iseng-iseng, saya top up saldo di Jenius. Saya tahu bahwa tagihan belanja saya sebesar Rp512.175 (lima ratus dua belas ribu seratus tujuh puluh lima rupiah), tapi sengaja saya lebihin nominal depositnya menjadi Rp600ribu.

Sambil ngisi saldo saya baca bismillah.

Keesokan harinya, saya bikin orderan baru untuk produk yang sama.

Karena orderan yang aktif sejak kemarin sengaja disisakan 1, maka total orderan aktif saya di hari Jum'at, 1 Maret 2019, ada 2 pesanan. Rupanya, saya tetap tidak diminta memasukkan CVC apapun yang terjadi.

Lemes dong, kan ya? Saya waktu itu ngerasa, ah, useless banget sih Jenius.

Jenius kagak, goblok iya. Lalu, saya batalkan orderan yang baru saja dibuat. Sedangkang, orderan di hari sebelumnya saya biarin saja nangkring di situ. Waktu itu yang saya pikirkan cuma satu: mendingan saya ambil lagi saja semua uang saya di Jenius.

Pas saya buka aplikasi Jenius, saya lihat saldo saya sudah berkurang Rp500ribuan. Lho kok?! Rupanya, uang itu sudah ditarik sama Amazon.

Memang ada beberapa merchant yang meminta penggunanya untuk memasukkan kode CVC. Dan mungkin saja, ada merchant yang langsung mendebet uangnya tanpa dia perlu mengetahui berapa kode CVC pada kartu tersebut.

Berarti, Amazon adalah salah satu dari merchant yang bisa ngambil duit tanpa perlu kita kasih tahu berapa kode CVC-nya.

Ya Allah... Trus, orderannya kan sudah saya cancel. Gimana nih? Bisa balik lagi gak ya uang saya? Akhirnya, saya cocokin email konfirmasi orderan dari Amazon dengan riwayat transaksi di aplikasi Jenius.

Saya berpikir keras! Ini nominal pembayarannya segini. Tanggal nariknya segini. Jadi, orderan mana yang saya bayar ya?

daftar orderan yang dibatalkan di Amazon

Saat itu saya sudah kalut dan nyesek. Saya cuma bisa ambil hikmahnya sambil ngegoblok-goblokin diri sendiri. Harusnya, orderan tadi itu gak saya batalin. Harusnya sebelum saya re-order saya lihat dulu saldonya. Harusnya, saya lebih jenius dari nama kartu debit saya.

Akhirnya, saya tutup semua aplikasi, saya berdoa, "Ya Allah, semoga uangnya bisa balik lagi, atau kalau enggak, semoga uangnya lari ke orderan yang ini, ya..."

Sejak itu, setiap beberapa jam sekali saya buka aplikasi Jenius dan Amazon. Saya cek secara berkala. Saya menantikan terjadi keajaiban. Saya menunggu pertolongan Tuhan. Saya berharap miracle itu gak hanya ada di air (miracle water), tapi juga ada di kehidupan saya.

Pas saya buka aplikasi Jenius, saya kaget ngelihat saldo saya berkurang Rp500ribuan. Rupanya Amazon bisa ngedebet, tanpa perlu tahu CVC-nya.

Alhamdulillah, malam harinya, saya dapat informasi kalau orderan stylus Sonar Pen saya sudah diproses dan sudah dapat nomor pelacakan. Pihak Green Bulb menggunakan jasa pengiriman Hongkong Post untuk mengirim barang ke seluruh dunia secara gratis.

Kira-kira, paket saya akan tiba di rumah antara tanggal 13-25 Maret 2019, insyaAllah. Alhamdulillah.

status kiriman paket belanja online di Amazon

Oh ya, ada informasi penting nih buat kamu yang juga pengen belanja online di merchant atau marketplace luar negeri. Ini soal pajak impor barang kiriman dari luar negeri dan beacukai!

Hati-hati sama beacukai!

Ini nih, informasi penting yang saya baru ketahui hari ini, yaitu tentang beacukai dan pajak belanja.

Jadi, pemerintah kita sudah memberlakukan peraturan baru sejak bulan Oktober 2018, yaitu tentang ketentuan impor barang kiriman dari luar negeri. Dan sudah dinyatakan sah oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan nomor 112/PMK.04/2018.

Intinya adalah setiap barang kiriman impor dengan nilai FOB $75USD - $1.500USD, kita selaku penerima akan dikenakan bea masuk, PPN, dan PPh Impor dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Dikenakan 7,5% atas tarif bea masuk sesuai aturan di PMK 182/PMK.04/2016.
  2. Dikenakan 10% atas tarif PPn sebesar sesuai aturan di UU PPN.
  3. Dikenakan tarif PPh Impor sesuai aturan di PMK-34/PMK.10/2017.*
*Catatan: Jika kita sebagai pembeli dan penerima barang, tidak bisa menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), mereka akan memberlakukan tarif PPh 100% (seratur persen) lebih tinggi dari tarif yang diterapkan kepada pemegang wajib pajak yang bisa menunjukkan NPWP.

Hal ini sudah diatur di UU PPh Pasal 22 ayat (2). Saya sudah terlanjur order, lalu gimana solusinya?

Cara menghindari membayar PPh impor 100% lebih tinggi dari seharusnya

Berdasarkan informasi yang saya baca di Pos Indonesia, sebenarnya ada caranya buat menghindari membayar PPh impor 100% lebih tinggi itu.

Di sini, kita bisa melakukan 2 cara. Yang pertama kita bisa menginformasikan nomor NPWP kepada pihak jasa ekspedisi Hongkong Pos. Atau, kita minta pengirim paketnya untuk mencantumkan nomor NPWP kita pada kiriman tersebut.

Cara menghindari pajak impor PPh 100%

Alhamdulillah, saya beruntung, karena saya masih sempat meminta penjualnya, Green Bulb, untuk menuliskan nomor NPWP saya di kemasan paket.

Update 06 April 2019

Jadi, paketnya udah nyampe nih alhamdulillah. Aman sentosa. Nyampenya itu tanggal 8 Maret 2019. Paketnya diantar oleh kurir Pos Indonesia.

Waktu itu saya bingung gimana cara mengekspresikan perasaan saya.

Saya senang sekaligus kaget melihat paket datang lebih cepat dari jadwal estimasi. Saya berusaha untuk meluapkannya. Tapi, hasilnya malah aneh.

Kalimat yang keluar dari mulut saya adalah, "aduuuh, kok cepet banget sih nyampenya?" Sambil tersenyum simpul. Kurirnya melirik saya sebentar, lalu buru-buru menundukkan pandangan.

Saya memang ngerasa aneh sih sama kalimat itu. Jadi, saya berusaha memperbaikinya. Kali ini saya ganti kata "aduh" menjadi "wah". Saya bilang, "Waaah, kok cepet banget sih nyampenya?"

Gara-gara ucapan gak jelas dan diulang-ulang, kurirnya mulai ngerasa awkward. Dia cuma bilang, "tolong tanda tangan di sini, pakai jari saja." Sambil nyodorin hape.

paket belanja di Amazon

Rupanya, kata-kata saya masih kedengeran absurd. Jadi, saya ulangi lagi untuk ketiga kalinya, tapi di ujung kalimat saya tambahanin, "alhamdulillah, saya senang..."

Kali ini kami saling memandang. Kami bertatapan sekitar 3 detik. Lalu, dia tersenyum, dan bilang, "Mbak, tolong cepat ditandatangani."

"Oh, iya, iya, Mas. Maaf, tunggu sebentar."

Nama saya Mew. Ini kisah saya. Terima kasih sudah membaca curhatan tidak berfaedah ini. Walaupun begitu, semoga bermanfaat dan sampai ketemu lagi di update artikel selanjutnya.

Komentar

  1. Setahu saya yang saya baru chat dengan pihak amazon, amazon sebenarnya udah ngecharge bea masuknya ke kita. Kalo misalnya kurang bea import nya nanti akan ditanggung oleh pihak amazon sedangkan kalau bea masuknya kelebihan nanti selisihnya akan dikembalikan ke kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, penjelasan yang mantap sekali, terima kasih... ^^

      Hapus
    2. Bener, Bea udah di charge ama amazon

      Hapus
  2. Halo, mau tanya update ceritanya nih, terutama terkait bea cukai. Karena kebetulan saya juga lagi mau order barang dr Amazone yang jumlahnya ga sampe $75 juga. Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya jadi gini, sesuai sama komentarnya agan Herenda di sini... Jadi barangnya itu udah sampai kan sebenarnya... Dan, ya saya gak bayar apa-apa lagi... Cuma tanda tangan, lalu terima barang... ^^

      Hapus
  3. Mb kalau orderan kita diatas $75 kena pajak ya, brp ya kira2 ? Orderan saya sekitar 1500.000 plus ongkir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo beli di amazon mestinya engga soalnya udah di include

      Hapus
    2. Hmmmm.... Kita bisa tahu berapa pajak yang harus dibayar menggunakan aplikasi resmi bea cukai yang bisa kita akses di "bctemas.beacukai.go.id/kalkulator.html"... Coba disesuaikan angka-angkanya ya, gan... ^^

      Hapus
  4. Yah..jadi gak bisa yah pakai kartu debit BNI?Punya saya sudah coba.Dan barangnya masih diproses aja...Jadi mending dibatalkan aja yah?kan pembayaran debit mastercard belum bisa diproses yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gan... gak bisa gan... kalau di saya, kartu debit BNI saya langsung ditolak gan sama Amazonnya... baik itu silver maupun gold card... kalau saran saya, gak usah dibatalin dulu gan, coba langsung ganti metode pembayarannya aja...

      Hapus
  5. Min, sy kan mau beli barang dgn harga $39 dgn keterangan free shiping tapi kok pas checkout gak ada pilihan free shiping nya ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Free Shipping hanya berlaku apabila pengguna Amazon Prime atau di wilayah USA. Sekarang ini Amazon Prime belum berlaku di Indonesia meskipun bisa dibeli.

      Hapus
    2. Saya juga belinya yang free shipping... tapi ada tulisanya "world wide-nya"... Jadi, bisa dipastikan lagi, free shipping-nya keseluruh dunia atau enggak gan...

      Hapus
    3. Sy mau order CD Linkin Park di Amazon US.. coba tolong di cek min, itu free shipping nya worldwide gak ya ?

      Hapus
  6. Kalau untuk penulisan alamat pakai bahasa Indonesia atau B Inggris ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai Bahasa Indonesia aja gan... Soalnya nanti kan yang antar setelah sampai di Indonesia adalah kurir dari Pos Indonesia... ^^

      Hapus
  7. Halo kak, sebelumnya aku sempat ngakak baca ceritanya karena seru, lucu, dan menarik XD

    dan aku rencana mau coba belanja juga dan barangnya nggak sampai 75 dollar, tapi aku belum punya npwp, kira2 ada pajak 100% itu tidak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung situsnya , mestinya amazon sudah tidak.

      Hapus
    2. Iya kak dari amazon, kalau buku komik/art book gitu ada pajak lainnya tidak? Atau kasusnya sama seperti yang cerita di atas? Aku baca2 di internet katanya kalau barang mewah ada pajak lain, itu apa ya kak kalau kakak tau? Trims.

      Hapus
    3. Ada gan... Kalau lebih dari FOBnya gan.... Kalau pembeliannya kurang dari 75$, gak kena pajak gan...

      Barang mewah itu misalnya jam tangan mewah yang harganya ratusan juta kayak Jam Rolex, kapal pesiar, mobil luxury, barang-barang seni yang bernilai ratusan juta seperti barang antik....

      Sedangkan buku, komik, art book, elektronik, itu gak termasuk barang mewah gan...

      Hapus
  8. Berarti lebih baik mencantumkan npwp di kemasan paket (ke seller) gitu ya buat jaga2?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sebaiknya mencantumkan NPWP untuk jaga2

      Hapus
    2. Idem sama Mas Herendra ya gan... Kalau gak ada NPWP, nanti kena PPh 20%

      Hapus
  9. Jeniusnya pake e-card / m-card nya ? Saya pakai e-cardnya jenius dan amazon selalu kasih tahu kalau payment method-nya nggak valid

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai e-card dan m-card, keduanya bisa gan... Kalau di pengalaman saya, saya pakai m-card... tapi beberapa hari lalu, ada pembaca saya yang ngasih tahu kalau dia bisa belanja pakai e-card...

      Hapus
  10. paket kita yg beli di amazon pas di indo dkirim pake kurir apa ya. trus kl beli barang semisal 2 pasang sepatu harga 100$ trus handling shipping 25$ apa nanti nya dikenakam pajak? atau handling tersebut sdh termasuk pajak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harga sudah termasuk bea dan pajak dan ongkir. Untuk pengiriman ketika sampai di Indonesia akan memakai jasa Pos Indonesia EMS.

      Hapus
    2. Gini gan.... Kan batas kena pajak itu dimulai dari FOB 75$, jadi kalau udah 100$ kena pajak gan... nah, nanti prosesnya gini...

      Agan pesan 2 pasang sepatu seharga 100$, jadi (100$x2 = 200$) + handling shipping 25$....

      Kalau agan punya NPWP, sebaiknya, agan minta sellernya untuk menuliskan NPWP agan di paket... Kalau gak punya NPWP, nanti agan kena PPh 20%....

      Nanti, begitu barangnya sampai di Indonesia, pengiriman paket akan diteruskan oleh kurir POS Indonesia...

      Kalau sepatu agan ada pajaknya, nanti begitu paket ada di rumah, agan akan menerima paket dan invoice pajak.... Agan, nanti bayar pajaknya cash, langsung di tempat, diserahkan ke kurirnya...

      Kalau sepatu agan gak dipajakin, nanti agan tinggal terima paketnya aja...

      Handling shipping itu artinya proses pengemasan dan pengiriman barang (ongkir)... Kalau di Indonesia, paketnya nanti dikasih bubble wrap, kardus tambahan, trus 25$ itu udah termasuk ongkir, bukan pajak...

      Hapus
  11. Sy mw brrnya mb, sy kn mw beli brg d amazon dan sy pny krtu debit bca, dan d metode pmbyaran utk krtu kredit/debit d sruh msukkin nama dan no kartu, sdgkn tidak ada nama d kartu debit bca saya. Jd bgaimana y? Trima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa-apa gan... dipakai aja kartu debitnya... bisa kok gan... Setahu saya nama yang tertera pada kartu fungsinya hanya untuk memastikan kalau cara penulisan nama kita sudah sesuai dengan record yang pada bank...

      Hapus
  12. gan tulis alamat penerima pakai bahasa indonesia atau english ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai Bahasa Indonesia aja gan... yang lengkap seperti agan kirim paket biasa ya... Soalnya nanti yang nerusin paketnya kurir yang ada di Indonesia, seperti Pos Indonesia... ^^

      Hapus
  13. Syrt onya npwp itu kan hrs gaji diatas brp gitu, jd kl gaji msh dibwh itu ga diwajibkan pny npwp, jd kl ga aajib pnya npwp ga wajib jg dong byr pjk 100% itu, kl slh mohon dikoreksi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmmm... mungkin maksudnya agan, salah satu fungsi NPWP sebagai deteksi pajak penghasilan (PPh) ya... Kalau NPWP yang saya maksud supaya pajak pertambahan nilai (PPN) tidak diberlakukan 2x lipat gan...

      PPh memang wajib disetor ke negara bagi mereka yang sudah punya NPWP... Tapi PPN diberlakukan untuk seluruh rakyat Indonesia, baik yang sudah punya NPWP atau gak punya NPWP...

      PPN itu hanya dibebankan kepada konsumen, ketika dia membeli produk/barang atau bertransaksi jual-beli...

      Misalnya, agan datang ke KFC... beli ayam... harga ayamnya paket hemat goceng... Saat agan bayar, agan gak beneran bayar Rp5.000... Biasanya ada lebihnya PPN 10%... Jadi total belanja agan Rp5.500 ....

      Kalau pada kasus di atas agan beneran bayarnya bisa pas Rp5.000, berarti total belanja agan sebenarnya kurang dari Rp5.000....

      Contoh lainnya... Agan beli game Minecraft di Google Playstore... harganya Rp99.000... Bayarnya pakai pulsa hape... Kalau agan cuma punya pulsa Rp100ribu, proses transaksi agan akan gagal... Karena saldo agan kurang / tidak cukup... Ada PPN 10% yang harus agan bayar... Jadi total belanja agan seharusnya Rp99.000 + Rp9.900....

      Gimana gan? Mudah-mudahan penjelasan saya gak ribet ya... ^^

      Hapus
  14. Salam kenal semua..,
    Salam knal mba Mew, menarik juga baca curhatan mba mew��.. mungkin mba Mew bisa buat curhatan lagi.. dengan judul " Payment Online Shop luar Negri dengan Jenius Pay".
    Perihal Curhatan Mba Mew, ada beberapa catatan yang mau saya sampaikan..
    1. Saat pembayaran Mba Mew bilang"Marketplace Amazon.com" bisa tarik uang mba pada kartu M-Card (Kartu Fisik) Jenius tanpa Mba Mew Isi Code CVC "Card Verification Code"/ CVV "Card Verification Value". Apa pentingnya CVV/CVC itu???.. Oktober 2003, penggunaan CVV/CVC menjadi standar di seluruh pembayaran elektronik dan online... Lalu Apa gunanya???.. CVC dan CVV membantu melindungi penggunaan kartu kredit / Debit Anda oleh orang lain dalam transaksi online. Dengan penggunaan CVV/CVC, Bank Penyedia kartu kredit Anda menjadi lebih yakin bahwa kartu tersebut digunakan oleh pemilik sah... Lalu Ko bisa "Marketplace Amazon.com" debit uang pada M-Card Jenius saya.. ??? Berarti masalahnya ada pada Jenius, Silakan Mba Mew hubungi Bank BTPN untuk mencegah hal serupa terjadi yahhh... !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke 2.
      Supaya bisa shopping di Amazon, kita membutuhkan kartu fisik. Mau itu kartu kredit atau kartu debit, kita harus punya kartu aslinya. Soalnya, sistem mereka akan menolak semua virtual card. Atau, kartu yang tidak memiliki bukti fisik.????
      Khusu Jenius Pay E-Card Bisa digunakan walaupun tidak ada fisiknya (Kartu Virtual).. Mengapa??? Dari segi fitur dan keamanan, e-Card Jenius tentu dapat menggantikan fungsi kartu kredit, dan pastikan kartu Virtual aktif dan memiliki saldo..

      Hapus
    2. Ke 3. Ngga ada istilah kita order barang dari Marketplace Luar Negeri baik itu Amazon, Alibaba, eBay, Walmart, Airbnb, dll. Karena nilai order melebihi $75, Tidak punya NPWP, Belum menuliskan No NPWP pada Box paket kiriman, dll. Lalu nanti pihak kurir Indonesia akan menagih bea Cukai Masuk, PPh Import to Indonesia kepada kita saat paket kita terima.?? Itu bohong..!! ..
      1. Fungsi kurir Indonesia Hanya Mengantar ke tempat Tujuan ketika barang keluar dari gudang, bukan nombokin pembeli yang order melebihi $75, Tidak punya NPWP, Belum menuliskan No NPWP pada Box paket kiriman, dll.
      2. Semua Marketplace kelas dunia Luar Negeri baik itu Amazon, Alibaba, eBay, Walmart, Airbnb, dll. Pastinya sistem payment Method mereka sudah akan menghitung otomatis Import fees Deposit to indonesia "Pajak". Khususnya Amazon.com akan ada pemberitahuan pada halaman Your Order: Tax and Seller Information. Jadi intinya tak perlu takut di tagih di rumah.
      3. Untuk menghindari PPh 100% bukan menuliskan No. NPWP pada Box kirimam, tapi kita daftarkan No. NPWP kita pihak Marketplace, yang nantinya nilai tagihan Import Fees Deposit to indonesia menjadi lebih rendah. Contoh: Tarif Cukai PPh dengan mempunyai NPWP hanya 10% dan yang tidak mempunyai NPWP tagihan PPh'nya menjadi 20%. 100% dari 10%.
      Terima Kasih

      Hapus
    3. Halo juga Mbak Mirza...

      Terima kasih tambahan informasinya ya, Mbak... Iya, ini juga jadi pengalaman yang gak biasa buat saya, kalau gitu saya coba follow up lagi ke BTPN Jenius-nya ya mbak... ^^

      Oh iya, benar mbak... walaupun saya belum pernah punya pengalaman pribadi terkait e-Card Jenius tapi saya tertarik untuk mencoba... Dan semoga hasil eksperimennya menarik untuk di share ya mbak... ^^

      Hapus
    4. Hmmm... trus untuk pajak... saya gak menginformasikan kalau "kurir akan nombokin pembeli yang order melebihi $75, Tidak punya NPWP, Belum menuliskan No NPWP pada Box paket kiriman, dll... Lalu nanti pihak kurir Indonesia akan menagih bea Cukai Masuk, PPh Import to Indonesia kepada kita saat paket kita terima..."

      Tapi informasi yang menarik lah hehehe... Btw, boleh dong saya minta source-nya terkait pajak belanja (transaksi) online luar negeri yang Mbak Mirza bilang valid... ^^ Sekalian infoin juga gimana caranya meregistrasikan NPWP ke Amazon ya, Mbak... ^^

      Hapus
    5. #Terkait kurir nombokin itu hanya alur perihal PPh 100%.
      # Terkait Registrasi to Amazon..
      Silakan Mba Contact Us Customer Service Amazon.com

      Hapus
  15. Haloo mau tanya nih. Smisal tidak punya NPWP gimana ya? Mau order juga sih di amazon pake jenius

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak kalau mau order >S75 tapi tidak punya npwp gimana ya? apa harga yang dibayarkan sudah termasuk pajak disini dan barangnya tidak akan tertahan di bea cukai?

      Hapus
    2. Hmmm... sependek pengetahuan saya, kalau kita belanja di Amazon, untuk pajak dan biaya lain-lain itu udah included / ditotalin saat check out...

      Nah, lalu buat yang gak punya NPWP, sebenarnya saya juga belum ada jelas betul soal ini...

      Saya coba tanya ke kantor pajak dan bea cukai pun gak mendapatkan informasi yang memuaskan... Mereka cuma menjelaskan besarnya pajak yang dibayarkan oleh pembeli yang punya NPWP dengan yang gak punya NPWP berbeda... Nanti saat barang dikirim ke rumah, kalau ada kekurangan, maka akan ditagih saat barang dikirim ke rumah...

      Tapi, pada inti prosesnya, kalau di Amazon semua pembayaran sudah termasuk harga barang, shipping, dan tax... Jadi pas barang nyampe ke rumah, umumnya, kita tinggal terima saja....

      Hapus
  16. Mbak tanya saya kan msh pelajar dan gk punya npwp
    Jadi kena pajak dari beacukai nya 20% dari total harga barang yg saya beli di amazon..?
    Terimah kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau secara teorinya gitu gan....

      Tapi kalau belanja di Amazon, kita gak perlu repot ngitung pajak lagi gan, soalnya sudah dihitung otomatis sama pihak Amazonnya...

      Coba gan, langsung praktek aja... Nanti share pengalamannya ke saya ya gan...

      Hapus
  17. itu kan belanja barangnya ga sampe nominal $75 jadi ga ngaruh dong nyantumin npwp nya 🤔

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo, jadi ga perlu tulis NPWP kan ya klo belanja <75$ ?

      Hapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehhh... komentarnya dihapus oleh pengarang hehehe...

      Hapus
  19. Bagaimana cara mengatasi "No sellers are currently shipping this item to your location" pada Shoping List di Amazon?

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba hubungi salah satu seller yang jual item yang agan mau beli, trus request shipping ke negara yang agan tuju...

      Hapus
  20. Menurut saya tidak ada keharusan menuliskan nmr npwp ke paket barang yg dikirim atau gak perlu juga meregister npwp ke marketplace yg dituju. Jadi gini menurut pengalaman saya jika barang yg dibeli lebih dari 75$ USD misal 75,1 akan dikenakan biaya impor (bea masuk,ppn,pph) pada kasus ini pihak bea cukai kantor pos akan menahan paket kita.selanjutnya beacukai akan mengirimkan surat ke alamat pembeli yang isinya kita disuruh melengkapi detail bukti pembayaran/pembelian dan nomor npwp kita, ada 2 opsi pertama dikirimkan ke alamat email yg tertulis di surat atau kirim ke nomor whatsapp. Jika sampai batas yg ditentukan max 20 hari sejak surat diterima maka akan diberlakukan pajak yg lebih tinggi (saya lupa brp %nya). Namun jika nilai barang yg kita beli dibawah atau sama dengan 75 maka bs dipastikan pos indonesia akan langsung mengantarkan ke alamat yang dituju.

    Bagus triadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, makasih sharing-nya gan... Jadi, kita dikasih tenggat waktu untuk mengambil / menunjukkan NPWP kita ke beacukai selama 20 hari ya gan? Kalau lewat dari 20 hari gak ada respon atau gak bisa menunjukkan dokumen yang diminta, nanti dikasih pajak 100% lebih tinggi itu ya...?

      Hapus
    2. Bukan 100% tp 20%. Jd itungan normalnya sperti ini :
      Bea Masuk 7.5%
      Ppn 10%
      Pph 10%
      Jika tidak punya NPWP Pph dikenakan 20%. Jika dalam batas waktu yg tertera disurat udah lewat maka akan dikenakan Pph 20%.
      Satu lagi rumus diatas hanya berlaku untuk barang yg umum, untuk barang2 tertentu seperti wine, perhiasan,sepatu & parfum pajaknya bs lebih tinggi lagi hitungan kasarnya bisa sampe 50% dr harga barang.

      Hapus
    3. Kalo dikirimnya via Pos memang masih bisa ngisi NPWP belakangan malah kalo hitungannya salah kita masih bisa coba diubah asal ada buktinya.

      Tapi kalo via ekspedisi seperti DHL, TNT, FedEx, ditalangin dulu sama mereka baru kita bayar ke mereka. Jadinya kalo salah perhitungan, kita cuma bisa pasrah.

      Kejadian sama teman saya sekitar 2 minggu yg lalu. Pengiriman via TNT, harga barang sekitar 3jt (SGD 301) kena tagihan pajak dkk di 1,6 padahal harusnya di 1,2 (menurut aplikasi bea cukai).
      Saya dan teman bingung kok ada selisihnya, akhirnya ketahuan selisihnya karena ga ada NPWP, padahal teman saya punya NPWP.
      Setelah kontak TNT, mereka cuma minta maaf untuk pengiriman kedepannya bakal dicantumkan NPWP tapi untuk pengiriman yg sekarang udah final ga bisa diapa-apain lagi.

      Hapus
  21. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  22. Gan mau tanya, saya sdh order dan bayar di amazon pake mastercard, tapi setelah pembayaran dilakukan saya dpt sms dr bank pembayaran di amazon sebesae USD 0,00. padahal barangnya sendiri harganya USD 11,00. Dan pas saya cek di e-banking saya ternyata tidak ada transaki keluar untuk beli barang di amazon. di applikasi amazonnya juga tiba2 orderan saya jadi ilang. Apa itu artinya orderan saya gagal? gagar pake master card. Padahal liat di Faq amazon katanya bisa pake mastercard juga. makasih gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Indonesia, yang diterima sekarang ini hanya kartu debit berlogo Visa gan...

      Hapus
  23. Salam kak, saya belanja di Amazon, tracking no melalui Ipab , hari ini estimasi barang sampai, dimana saya bisa mencari informasi kurir mn yg akan mengantarkan paketnya ke rumah saya, apakah melalui pos ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengiriman nanti diteruskan oleh POS Indonesia gan... Begitu status orderan berubah jadi "Shipped", kalau kita klik "See all updates", nanti muncul no AWB dan nama ekspedisinya... Trus, kita cek nanti AWB-nya... Nanti ada keterangan lengkap, bakalan diteruskan pakai ekspedisi apa begitu sampai di Indonesia...

      Hapus
  24. Saya barusan order cuma 23 dollar plus ongkir, saya berhasil tu orderan ga ada masalah masukin debit mandiri logo visa tp saya cek kok ga kedebet ya? Saldo saya masih utuh, tp cek di web nya orderan saya sukses? Apa saya tunggu besok terdebet otomatis ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hallo kak, pengalamannya sama nih, gimana kak? sekarang apakah sudah berhasil terdebit?

      Hapus
  25. Halo saya mau tanya, kalau semisal saya order barang hanya sejumlah $26 (sudah +shipping) itu dijamin tidak kena pajak kan? Maaf saya soalnya masih pelajar jadi agak ragu. Terimakasih.

    BalasHapus
  26. Tanya dong, kalo beli barang 65dolar + shipping charge 14dolar = 80dolar itu kena pajak gak ya. Kan bebas bea pajak 75dolar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang dihitung harga barang saja tidak termasuk ongkir. Misal harga barang $10,, ongkir $1000 ( misal kirim bambu 1 lonjor 🙈😆) aman tidak akan kena pajak.

      Hapus
    2. Bukannya perhitungan bea masuk,ppn,pph itu dari total harga include ongkir gan....atau ada peraturan baru?

      Hapus
  27. Mau nanya kalo belanja di amazon di atas $75 tp as a gift apakah kena pajak bea cukai jg ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beacukai hanya menafsirkan estimasi harga barang, selama isi barang as gift ditafsir dibawah 75 ya lolos aja, pengecualian ketika melewati Xray ketauan isinya iphoneX dan terbungkus kado as gift dari amazon ya tetep aja ketauan dan pasti dibongkar.. dan kena dehh 😁

      Hapus
  28. Menarik bacanya dan lucu he.. jd gk y belanja di amazon dan skitarnya ? Behubung gk pny kartu bank kcuali kartu sim hihi.. jd gmn dong ? Silahkan tulis komentarnya 🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?