Pengalaman Belanja Online Di Amazon Pakai Kartu Debit Jenius

Pernah gak sih kamu ngalamin kejadian dimana kamu pengen beli sesuatu tapi produk itu baru dipasarin di luar negeri? Kali ini, saya mau cerita tentang pengalaman saya belanja online di Amazon pakai kartu debit Jenius.

Bahasa kerennya, kita bisa sebut aktivitas ini sebagai, "international shopping". Kamu tahu Amazon, kan? Pusat perbelanjaan satu ini berbeda dengan Ebay, Airbnb, Etsy, Zulily, Forever 21, dan marketplace lainnya, dia gak menerima Paypal sebagai alat pembayaran.

Oh ya, sebelum kamu lanjut nge-scroll ke bawah, kamu juga bisa mendengarkan cerita saya di podcast Radio Mewdavinci. Caranya gampang! Klik saja tombol Play di bawah ini. Dan selamat mendengarkan.


Untuk orang Indonesia yang ingin berbelanja di Amazon pakai kartu debit, kamu harus tahu informasi ini!

Pertama-tama, sekedar informasi, saya ini sebelumnya sudah pernah mencoba bertransaksi di Amazon menggunakan VCC BNI Syariah. Bank BNI Syariah sendiri memang menyediakan fitur request VCC (Virtual Credit Card). Apa sih fungsinya VCC ini?

Pada praktiknya, ketika kita mau mengisi saldo Paypal atau melakukan verifikasi akun Paypal, VCC ini bisa kita manfaatkan untuk menyelesaikan tugas-tugas semacam itu. Akun Paypal yang sudah terverifikasi, bisa digunakan secara maksimal untuk menerima uang atau berbelanja online.

Nah! VCC ini tidak berguna kalau kita mau berbelanja di Amazon, baik di akun Amazon biasa ataupun Amazon Prime.

Supaya bisa berbelanja di sana, kita membutuhkan kartu fisik. Mau itu kartu kredit atau kartu debit, kita harus punya kartu aslinya. Sistem mereka menolak yang namanya kartu-kartu bodong (virtual card).

Trus, apa solusinya buat orang yang gak punya kartu kredit dan cuma mau bayar pakai kartu debit?

Belanja online di Amazon pakai kartu debit

Untuk pembayaran menggunakan kartu kredit, kita bisa membayar menggunakan credit card berlogo Visa, Master Card, China UnionPay, JBC, Discover, Diners Club International, dan American Express.

Tapi khusus kartu debit, saat ini Amazon hanya menerima kartu berlogo Visa. Jadi, untuk saya yang merupakan nasabah BNI Syariah dan tetap ingin berbelanja menggunakan debit card, berarti saya hanya punya 2 pilihan, yaitu pakai kartu debit BCA atau pakai kartu Jenius.

Terus terang, kedua opsi tersebut termasuk pilihan yang gampang-gampang rumit, saat itu. Kenapa? Karena pertimbangannya gini ya teman-teman...

Kalau saya pakai kartu debit BCA, artinya saya harus buka rekening di BCA. Walaupun sebenarnya, mungkin bisa saja saya meminjam debit card milik orangtua atau kakak-kakak saya, tapi kan itu juga gak menjamin tingkat keberhasilannya mencapai 100%. Ya, kan?

Jadi pilihan saya cuma tinggal satu, yaitu pakai kartu debit Jenius. Sayangnya, saat itu saya gak bisa bikin akun melalui aplikasi Jenius. Soalnya KTP saya hilang, dan sejak itu sampai hari Selasa, tanggal 26 Februari 2019, saya hanya menggunakan KTP resi.

Sekedar informasi, kalau kamu gak tahu kayak apa itu KTP resi. Saya tunjukkan bentuk fisiknya melalui foto di bawah ini. Jadi, yang disebelah kanan itu, KTP asli, dalam bentuk kartu ya. Dan yang di sebelah kiri itu, KTP resi, dicetak di kertas HVS ukuran A4.

Perbedaan KTP resi dan KTP asli

Oke, balik lagi ke topik. Gara-gara saya hanya punya KTP sementara, pihak BTPN Jenius, menolak permohonan saya untuk buka akun Jenius. Singkatnya, selama saya tidak memiliki kartu KTP asli, saya tidak akan pernah bisa bikin akun di situ, dan otomatis gak punya kartu debit Jenius.

Kecuali, saya datang langsung ke counter Jenius.

Di sana mereka akan mencoba membantu dengan cara meng-inject KTP sementara saya pakai printer khusus mencetak id card. Dengan kata lain, KTP resi saya dicetak dalam bentuk kartu, bukan lagi di kertas HVS. Tapi bukan KTP palsu ya.

Fakta menarik: Amazon hanya menerima kartu fisik. Sistem mereka akan menolak VCC. Selain itu, kartu debit yang diterima hanya yang berlogo Visa.

Setelah hampir 2 tahun berlalu, alhamdulillah, tepat di hari Rabu, tanggal 27 Februari 2019, saya berhasil memperoleh KTP asli. Di hari itu juga, saya terdaftar sebagai salah satu nasabah BTPN Jenius. Alhamdulillah. Saya dapat 2 keberuntungan di hari yang sama.

Nah! Sekarang kan, saya sudah punya kartu debit berlogo Visa ya. Lalu, selanjutnya ngapain?

Saatnya belanja online di Amazon, tapi gimana cara bayarnya? Dan seperti apa prosesnya?

Akhirnya, kita masuk ke bahasan utama. Tapi, sebelumnya saya mau disclaimer dulu ya, kalau semua yang saya ceritakan mungkin hanya dialami oleh saya, dan tidak berlaku ke semua orang. Seandainya, kamu juga mengalaminya, saya rasa curhatan saya ini adalah jawabannya.

Cara bayar tagihan Amazon pakai WU Amazon PayCode

Setelah saya memperoleh kartu Jenius berlogo Visa, malam harinya, saya langsung mencoba bertransaksi di Amazon. Saya beli stylus produksi Green Bulb, mereknya Sonar Pen. Harganya $34.00USD. Kalau dikonversi ke Rupiah, saat itu sekitar Rp500ribuan.

Proses belanja online di Amazon ini sederhana, yaitu:
  1. Pertama-tama, pilih produk yang ingin di beli, 
  2. Lalu klik tombol Buy atau Add to Cart,
  3. Klik tombol Check Out,
  4. Terakhir, karena sebelumnya saya sudah memasukkan data-data seperti metode pembayaran dan alamat tujuan, maka saya tinggal klik tombol Process Now.
  5. Selesai deh!
Tapi, uniknya di sini, saya sama sekali gak diminta untuk memasukkan kode verifikasi kartu (CVC). Harusnya kan dimintain ya? Soalnya, gimana caranya Amazon nge-debet uangnya kalau dia gak tahu CVC saya.

Saya rasa asumsi saya ini normal, karena beberapa kali saya belanja online (walaupun produk digital), saya selalu diminta mengisi CVC.

Karena saya bingung, saya cari artikel dan video di YouTube yang membahas tentang step by step berbelanja online di Amazon. Rata-rata dari mereka belanja langsung di Amazon hanya menampilkan proses pilih-pilih produk, lalu check out, dan tiba-tiba mengucapkan terima kasih sudah menonton.

Selain itu, kebanyakan orang Indonesia cenderung berbelanja di Amazon menggunakan jastip (jasa titip belanja online), alias orang ketiga. Dengan kata lain, sebenarnya, mereka itu minta dipesankan oleh orang lain yang bisa bertransaksi di Amazon.

Satu-satunya video yang saya temukan pembelinya berbelanja sampai tuntas adalah YouTuber India yang berbelanja secara langsung di Amazon menggunakan kartu debit berlogo RuPay. Di video itu, dia memasukkan 16 digit nomor kartu debitnya dan CVC yang tertera di belakang kartu.

Sedangkan, saya tidak ada proses memasukkan CVC.

Mayoritas YouTuber dan Blogger di Indonesia berbelanja di Amazon dengan memanfaatkan jastip (jasa titip) atau orang ketiga.

Gara-gara sebuah perbedaan tersebut, saya berulangkali melakukan order, lalu cancel, lalu order lagi, lalu cancel orderan lagi. Bahkan saya sengaja menghapus metode pembayaran dan alamat rumah saya, lalu melakukan orderan lagi, biar apa coba?

Saya seperti itu cuma gara-gara saya pengen terlihat "normal" seperti yang lainnya. Dibeda-bedakan itu gak selalu enak, tahu gak sih? Di sini saya sedih. Saya seperti alien. Kalau gak percaya, cobain aja sendiri.

Uniknya, Amazon sama sekali tidak menanyakan 3 digit kode verifikasi kartu debit saya (CVC).

Tapi, kabar bagusnya, apa yang saya alami ini rupanya konsisten ya. Saya tetap aja tuh gak dimintai CVC apapun yang terjadi.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi call center Jenius. Ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan saat itu:

T: Kira-kira berpengaruh gak ya tanda baca yang didaftarkan sebagai alamat korespondensi di BTPN Jenius terhadap alamat tagihan kartu debit di Amazon?
J: Sebenarnya, gak ada pengaruhnya.

T: Lalu, kenapa ya kartu saya ditolak?
J: Mungkin aja karena usia kartu debit Jenius yang digunakan masih sangat muda. Maksudnya, ketika kartu Jenius baru saja diaktifkan, maka setidaknya pemilik kartu harus menunggu minimal 48 jam hingga kartunya siap untuk digunakan sebagai alat transaksi internasional.

T: Apa gara-gara kartu saya masih berumur 4 jam sehingga sistem Amazon tidak meminta saya memasukkan CVC?
J: Kalau soal ini, harus ditanyakan langsung ke pihak Amazon-nya. Bagaimana cara kerja mereka. Saran saya (cs Jenius), sebaiknya ada saldo sekitar Rp75-100ribu untuk digunakan oleh Amazon sebagai transaksi pancingan.
Karena beberapa merchant berusaha melakukan transaksi langsung tanpa memerlukan CVC, untuk mengetahui apakah kartunya aktif atau tidak.

Nah! Dari percakapan barusan, saya jadi tahu, kalau saya mau pakai kartu debit Jenius sebagai alat pembayaran belanja online di Amazon, ada 3 hal yang harus saya ketahui:
  1. Kartu debitnya harus masih aktif dan bisa digunakan sebagai alat pembayaran
  2. Usia kartu debit Jenius minimal 48 jam sejak pertama kali diaktifkan
  3. Ada saldonya minimal Rp75ribu
Oke! Saya paham. Jadi, saya putuskan untuk membuka kembali aplikasi online shop Amazon 2 hari kemudian. Artinya, saya bakalan balik lagi hari Jum'at. Karena udah malam juga kan, jadi saya tidur saja.

Saya masuk kamar mandi, wudhu, keluar kamar mandi, lalu masuk kamar tidur, berbaring di kasur, saya penjamkan mata, dan... Gak bisa tidur!

Saya masih kepikiran tuh soal, kenapa saya berbeda? Apa saya ini dikasih keistimewaan? Kenapa orang India itu punya kolom buat masukin CVC, sedangkan saya cuma ditanyain nomor kartunya saja? Apa iya ini normal (buat saya)?

Dengan banyaknya pertanyaan di kepala saya, akhirnya saya ketiduran sendiri. Saya merasa lelah, dan saya ingin tidur. Saya lanjutkan pusing-pusingannya lagi kalau sudah lebih segar.

Keesokan paginya, saya bangun. Kira-kira jam 2an pagi lah ya. Saya tahajjud seperti biasa. Setelah semua ritual pemujaan beres. Saya balik lagi ke depan laptop. Saya kirim email ke Amazon.

Ternyata, cuma curhat ke cs Jenius dan Allah itu gak puas ya? Saya pengen Amazon tahu apa yang saya alami dan saya rasakan. Saya ceritain hal yang sama. Saya pikir email saya gak dibalas, jadi saya lupakan semua kejadian barusan.

Karena masih penasaran, saya top up saldo di kartu debit Jenius saya. Tagihan belanja saya itu sebesar Rp512.175 (lima ratus dua belas ribu seratus tujuh puluh lima rupiah), tapi sengaja saya lebihin nominal depositnya jadi Rp600ribu.

Sambil ngisi saldo saya baca bismillah.

Keesokan harinya, saya order ulang. Karena orderan yang aktif sejak kemarin sengaja disisakan 1, maka total orderan aktif saya di hari Jum'at ada 2. Rupanya, saya tetap tidak diminta memasukkan CVC apapun yang terjadi.

Lemes dong, kan ya? Saya waktu itu ngerasa, ah, useless banget sih Jenius.

Jenius kagak, goblok iya. Lalu, saya batalkan deh orderan saya yang tadi. Tapi, orderan kemarin saya biarin saja nangkring di situ. Waktu itu yang saya pikirkan cuma satu: saya pengen ngambil lagi semua uang saya di Jenius.

Pas saya buka aplikasi Jenius, saya lihat saldo saya sudah berkurang Rp500ribu. Lho kok?! Rupanya, uang itu udah ditarik sama Amazon. Jadi, mereka itu bisa ngedebet tanpa perlu tahu CVC kartunya.

Ya Allah... Orderan saya udah saya cancel tadi. Gimana nih? Bisa balik lagi gak ya uang saya? Akhirnya, saya cocokin email, ini nominal pembayarannya segini. Tanggal nariknya segini. Ini orderan mana yang saya bayar ya?

daftar orderan yang dibatalkan di Amazon

Saat itu saya sudah kalut dan nyesek. Saya cuma bisa ambil hikmahnya sambil ngegoblok-goblokin diri sendiri. Harusnya, orderan tadi itu gak saya batalin. Harusnya sebelum saya re-order saya lihat dulu saldonya. Harusnya, saya lebih jenius dari kartu debit saya.

Akhirnya, saya tutup semua aplikasi, saya berdoa, "Ya Allah, semoga uangnya bisa balik lagi, atau kalau enggak, semoga uangnya lari ke orderan yang ini, ya." Wah, persis deh kayak judul sinetron, "Ratapan Anak Tiri". Tapi kalau ke saya jadinya, Ratapan Anak Goblok.

Gimana gak goblok coba?

Bahkan, setelah kejadian itupun, setiap beberapa jam sekali saya buka aplikasi Jenius dan Amazon. Saya cek secara berkala. Saya menantikan keajaiban itu terjadi. Saya menunggu pertolongan Tuhan. Saya berharap miracle itu gak hanya ada di air (miracle water), tapi juga ada di kehidupan saya.

Pas saya buka aplikasi Jenius, saya kaget ngelihat saldo saya berkurang Rp500ribu. Rupanya Amazon bisa ngedebet, tanpa perlu tahu CVC-nya.

Alhamdulillah, malam harinya, saya dapat informasi kalau orderan stylus Sonar Pen saya sudah diproses dan sudah dapat nomor pelacakan. Pihak Green Bulb menggunakan jasa pengiriman Hongkong Post untuk mengirim barang ke seluruh dunia secara gratis.

Kira-kira, paket saya akan tiba di rumah antara tanggal 13-25 Maret 2019, insyaAllah. Alhamdulillah.

status kiriman paket belanja online di Amazon

Oh ya, ada informasi penting nih buat kamu yang juga pengen belanja online di merchant/marketplace luar negeri. Ini soal pajak impor barang kiriman dari luar negeri dan beacukai!

Jangan lupakan beacukai ketika kita mau shopping online di toko luar negeri!

Ini nih, informasi penting yang saya baru ketahui hari ini, yaitu tentang beacukai dan pajak belanja.

Jadi, pemerintah kita sudah memberlakukan peraturan baru sejak bulan Oktober 2018, yaitu tentang ketentuan impor barang kiriman dari luar negeri. Dan sudah dinyatakan sah oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan nomor 112/PMK.04/2018.

Intinya adalah setiap barang kiriman impor dengan nilai FOB $75USD - $1.500USD, kita selaku penerima akan dikenakan bea masuk, PPN, dan PPh Impor dengan ketentuan sebagai berikut:
  1. Dikenakan 7,5% atas tarif bea masuk sesuai aturan di PMK 182/PMK.04/2016.
  2. Dikenakan 10% atas tarif PPn sebesar sesuai aturan di UU PPN.
  3. Dikenakan tarif PPh Impor sesuai aturan di PMK-34/PMK.10/2017.*
*Catatan: Jika kita sebagai pembeli dan penerima barang, tidak bisa menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), mereka akan memberlakukan tarif PPh 100% (seratur persen) lebih tinggi dari tarif yang diterapkan kepada pemegang wajib pajak yang bisa menunjukkan NPWP.

Hal ini sudah diatur di UU PPh Pasal 22 ayat (2). Lalu gimana solusinya?

Cara menghindari membayar PPh impor 100% lebih tinggi dari seharusnya

Berdasarkan informasi yang saya baca di Pos Indonesia, sebenarnya ada caranya buat menghindari membayar PPh impor 100% lebih tinggi itu.

Disini, kita bisa melakukan 2 cara. Yang pertama kita bisa menginformasikan nomor NPWP kepada pihak jasa ekspedisi Hongkong Pos. Atau, kita minta pengirim paketnya untuk mencantumkan nomor NPWP kita pada kiriman tersebut.

Cara menghindari pajak impor PPh 100%

Alhamdulillah, saya beruntung, karena saya masih sempat meminta penjualnya, Green Bulb, untuk menuliskan nomor NPWP saya di kemasan paket.

Gimana akhirnya nanti ya? Semoga happy ending. Nah! Kisah ini masih bersambung. Nantikan lanjutannya ya. Doakan saya semoga semuanya berjalan lancar dan diberkahi ya.

Oh ya, kalau kamu punya pengalaman yang sama dengan saya, tulis di kolom komentar, apa saja yang kamu alami, dan bagaimana kamu melewatinya. Saya pengen baca cerita kamu.

Bagikan juga artikel ini ke teman-teman, sahabat, saudara, dan keluarga kamu, untuk membantu mereka yang mungkin saja pengen belanja online di olshop Amazon, tapi masih bingung gimana prosesnya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Semoga tulisan saya bermanfaat, ya.

Komentar