Menyebalkan! Wabah Damping Off Menyerang Tanaman Cabai

Kamu suka pedas? Bicara tentang cabai, memang tidak akan ada habisnya. Mulai dari rasa, cara budidaya, hingga harga jual yang termasuk komoditi pertanian jam-jaman. Artinya, harga satu kilogram cabai bisa berubah kapan saja, tergantung kelangkaan stok di pasar.

Warna merah menyala pada kulit dan daging cabai, aroma khasnya yang nonjok, dan rasa pedas membakar lidah, bisa membuat siapa saja ketagihan. Bagaikan dua sejoli, cabai dan rakyat Indonesia tidak bisa dipisahkan.

Padahal, pergerakan harga cabai sangat fluktuatif. Terkadang, untuk satu kilogram cabai, kita bisa membelinya seharga Rp4.000. Namun, pada awal tahun 2017, harga jual cabai pun pernah menembus angka Rp200.000/kg. Emejing joss gandos banget, kan?

Cabai merah, cabai rawit, cabai hijau, cabai besar

Kamu bisa mendapatkan informasi harga cabai terkini melalui website Info Pangan Jakarta.


Manfaat Cabai

Ada kabar gembira bagi penggemar cabai. Berdasarkan informasi dari Trubus, ternyata setiap satu buah cabai segar mengandung protein, amino acid, kalori, lemak, mineral, karbohidrat, sterol, dan air yang setara dengan buah-buahan manis.

Minyak atsiri dan lipid (lemak) yang ada pada hot chilli ini berfungsi menghangatkan tubuh. Lemak pada cabai bisa menghancurkan lemak hewani, dan bersifat non-kolestrol. Itu sebabnya, kalau kita memasak kaldu, lalu dibubuhi chilli powder, maka ketika suhu kaldu tersebut turun, kita tidak akan menemukan penggumpalan lemak.

Selain itu, lombok juga bisa mendetoksifikasi paru-paru secara alami, mengobati masuk angin, sinus, influenza, asma, dan rematik. Namun, para dokter dan ahli gizi sepakat menganjurkan penderita maag akut agar mengurangi bahkan berhenti mengonsumsi cabai.

Kandungan capsaicin dan 4 macam vitamin (A, B1, B2, dan C) pada lombok bisa menstimulir detektor panas dalam kelenjar hypothalmus. Sehingga, bisa membantu menyejukkan tubuh, walaupun hawa sekitar kita terasa panas.

Ilustrasi Cabai oleh Mew da Vinci


Prospek Usahatani Cabai

Usahatani cabai di Indonesia masih menjanjikan. Ada banyak peluang untuk mengembangkan prospek bisnis lombok ini hingga ke tingkat nasional. Saya rasa, 4 indikator berikut ini bisa membantu kita mengukur tingkat kelayakan berbisnis cabai di Indonesia, yaitu:

1. Permintaan cabai terus meningkat

Tahu kah kamu? Meningkatnya jumlah penduduk Indonesia merupakan salah satu ciri negara dengan potensi bisnis kuliner terbaik. Memang sih, negara padat penduduk bukan berarti dompetnya makmur. Namun, hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan konsumsi pangan kian meningkat.

Apalagi karakteristik masyarakat Asia, khususnya Indonesia, adalah penggemar kuliner pedas. Katanya, gak nampol kalau belum ngicipi something hot, burn, and chilli! Belum makan kalau gak pakai nasi dicocol sambel. Itu sebabnya, permintaan cabai setiap tahun terus meningkat sebanyak 2 persen per kapita.



2. Banyaknya industri pangan berbahan baku cabai

Di Indonesia, mudah sekali menemukan rumah makan yang menawarkan menu pedas. Kalau pun ingin berhemat, kita bisa menambahkan aneka sambal dengan tingkat kepedasan sesuai nyali ke dalam hidangan favorit. Apa artinya?

Artinya, resep kuliner yang membutuhkan cabai sebagai bumbu dan hiasan hidangan, semakin menjamur. Begitu banyak olahan cabai, seperti saus, bubuk cabai, sambal, cokelat, sirup, tepung, manisan, dan lain-lain.


3. Harga jual cabai yang tinggi

Berdasarkan kedua poin di atas, kesimpulannya adalah jumlah petani cabai di Indonesia masih terlalu sedikit. Hal ini menyebabkan stok cabai belum bisa memenuhi target permintaan pasar. Sehingga, pemerintah sampai harus mengimpor cabai dari Cina sebagai upaya menekan harga cabai yang semakin melambung.

Contohnya, harga cabai rawit merah di Pasar Sunter Podomoro pada tanggal 8 Maret 2018, per kilogramnya dijual seharga Rp80.000. Namun, 8 hari kemudian (16 Maret 2018), harganya turun drastis sebesar 50 persen, walaupun dijual di pasar yang sama.

Emejing joss gandos banget, kan?

4. Peluang pasar ekspor cabai masih terbuka

Yakin, mau mengekspor cabai? Padahal, kebutuhan cabai di Indonesia saja masih kurang. Lalu, kamu mau ekspor? Wah, emejing!

Tapi, ya gak apa-apa juga sih. Mengingat harga ekspor cabai memang lebih tinggi daripada berdagang di negeri sendiri. Pasalnya, beberapa negara seperti India, Pakistan, dan Singapura bersedia membayar cabai asal Indonesia dengan harga jauh lebih mahal. Dan, tentunya dibayar menggunakan kurs dollar.



Pengalaman Budidaya Cabai

Ini pengalaman pertama saya menanam cabai. Walaupun masih menggunakan pot-pot kecil, tapi saya cukup bersemangat. Apalagi saya tidak mengerjakannya sendirian. Melainkan dilakukan bersama dengan sahabat baik saya, yang juga sesama IT. Sebut saja dia Bunga, eh Sulton ding.

Kami melakukan beberapa eksperimen, seperti membandingkan proses pertumbuhan cabai dari beberapa varietas yang berbeda. Walaupun umumnya tanaman ini membutuhkan suplai air dan sinar matahari yang cukup, namun setiap jenisnya membutuhkan perlakukan berbeda-beda.

Di pekan pertama, memang semua baik-baik saja. Tapi setelah sebulan kemudian, rupanya takdir berkata lain. Wah, gawat ini! Benih cabai yang baru ditanam, gagal berubah wujud menjadi kecambah gara-gara damping off. Nular gak yah? 😭😭😭

Berdasarkan keterangan Bapak Ir. Final Prajnanta, damping off merupakan penyakit yang pertama kali menyerang tanaman cabai. Akibatnya, kecambah gagal muncul ke permukaan tanah. Bahasa lainnya, keburu loyo sebelum bertempur. 😥😥😥

Damping off sendiri dikenal juga sebagai layu semai atau rebah kecambah. Serangan penyakit ini berpotensi membunuh tanaman-tanaman cabai di sekitarnya yang baru disemai. Jadi, kalau ada satu tanaman cabai yang terserang damping off, maka yang lain pun bisa ikut terjangkit juga.

Replika cabai di supermarket

Berdasarkan buku bertajuk peluang usaha dan budidaya cabai, penyebab damping off adalah cendawan Fusarium sp dan  Pythium sp. Awalnya, saya kita cendawan adalah sejenis virus, ternyata cendawan berarti jamur.

Gejalanya adalah bibit yang masih muda di pesemaian, tiba-tiba rebah lantas mati. Pangkal batang berwarna cokelat-kehitaman dan tampak basah, mengerut, menciut, pada akhirnya rebah dan tewas, membusuk.

Ada penyakit, pasti ada penawarnya. Sayangnya, kalau udah tewas begitu, gimana cara ngehidupinnya lagi? Buat petani berstatus totally newbie seperti saya, perlu pengalaman tersendiri untuk menyelamatkan benih yang sekarat.

Cara pengendaliannya

Setidaknya, ada 3 langkah mudah untuk menyelamatkan calon bibit cabai yang hidup di lingkungan terjangkit wabah damping off, yaitu:
  1. Jamur akan berkembangbiak dengan sangat baik, jika dibiarkan berada di tempat yang teduh, lembab, dan kurang sinar matahari. Oleh karena itu, kita bisa melakukan pengolahan tanah tempat bibit cabai ditanam. Caranya, dengan membalik bagian terbawah tanah, agar setiap sudut tanah mendapat nutrisi dari cahaya matahari. Upaya ini dilakukan dalam rangka membunuh spora cendawan.
  2. Menjaga sanitasi dan kelembaban persemaian. Jangan sampai tanah terlalu kering, juga jangan terlampau basah.
  3. Lakukan penyemprotan lahan menggunakan fungisida secara berseling antara fungisida kontak dan sistemik, seperti Benomyl, Agrymicin, Vondozeb 80 WP (2,5 g/l), Antracol 70 WP (2,5 g/l), dan Previcur N (1,5-2 ml/l).
  4. Cobalah merendam benih cabai dalam larutan fungisida Previcur N (1,5 ml/l), selama kurun waktu 4-6 jam.

Nah! Saya dapat istilah baru lagi... 😕😕😕

OK. Pertanyaan baru, semua larutan fungisida tersebut adalah larutan kimia, betul kan? Kalau fungisida organik gimana ya?

Komentar

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?