Polisi Baik. Polisi Jahat

Nila setitik, rusak susu sebelangga.

Seperti apa kira-kira sosok polisi yang kamu tahu? Apakah dia seperti superhero bagimu? Atau preman-preman bengis yang berseragam?

Beberapa kenalan saya mendeskripsikan polisi sebagai aparatur negara dengan kepribadian kompleks. Ada juga yang bilang, polisi adalah psikopat berhati dingin yang mengenakan seragam dan hidupnya dibiayai oleh rakyat yang saban hari di-dzolimi."

Ada juga yang menilai polisi sebagai sosok pembela kebenaran yang tak ubahnya seperti aku dan kamu. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga mematuhi pedoman-pedoman kepolisian dan nilai-nilai kemasyarakatan yang santun dan beradab, namun tetap saja tidak sempurna sehingga polisi juga bisa berbuat salah.

Mereka yang memilih untuk membenci polisi, boleh jadi karena terbiasa melihat apa yang diberitakan di media, mendengar ghibahan, dan sampai akhirnya jadi bete setelah berurusan secara langsung dengan polisi. Rata-rata karena habis ditilang. Yah, tilang-menilang boleh jadi merupakan 1 dari sekian banyak kasus. Tentu saja, beberapa orang punya pengalaman buruk lainnya terkait hukum dan polisi.

Polisi baik. Polisi jahat. Anda kontroversi sekali.


Tepat kemarin siang, tanggal 13 Oktober 2021, saya menonton cuplikan video amatir yang diunggah di laman Instagram. Video berdurasi kurang dari satu menit tersebut menayangkan rekaman seorang mahasiswa yang sedang demo di Tangerang.

Kejadiannya sekitar siang hari. Saya gak tahu pastinya jam berapa. Di situ, saya lihat memang ada kericuhan, dan beberapa polisi berseragam lengkap berusaha mengamankan mahasiswa yang dinilai frontal dan menolak untuk berdamai.

Awalnya, di beberapa detik pertama, saya merasa ini video aksi demo yang biasa-biasa saja. Sampai akhirnya, saya melihat seorang mahasiswa diseret oleh salah seorang polisi menggunakan teknik kuncian di leher. Dia, si mahasiswa tersebut, dibawa ke pinggir jalan, kemudian pak polisi langsung membanting mahasiswa itu.

Suara bantingannya keras banget, sampai masuk dan terekam di video. Tak lama kemudian, mahasiswa tersebut kejang-kejang dan diisukan muntah sehingga terpaksa dilarikan ke rumah sakit dan diberi perawatan intensif di Unit Gawat Darurat.

Saya gak begitu paham, bagian mana yang diduga cidera tapi netizen menyimpulkan kalau pak polisi hampir saja melukai tulang ekornya. Yang mana bisa berakibat fatal, seperti cacat seumur hidup atau meninggal dunia.

Hujatan demi hujatan terus bermunculan menagih pertanggung-jawaban. Pihak kepolisian Tangerang menyatakan masih berupaya mengatasi permasalahan internal ini dan menindak tegas polisi tersebut.

Balik lagi. Polisi baik. Polisi jahat. Sebenarnya, polisi itu apa, siapa, dan bagaimana?

Kalau mau menilai polisi itu jahat, rasanya gak tega. Karena saya pikir, tidak semuanya jahat. Tidak semuanya sengklek. Tidak semuanya begajulan. Saya pernah beberapa kali bertemu dan ditolong oleh polisi baik hati. Gak hanya baik, tapi juga tampan. Hahaha.

Saat dulu ditilang polisi pun, saya gak menyimpan dendam, karena nyatanya ketika polisi menilang pengendara yang ngadi-ngadi saja tingkahnya dijalanan, saya melihat tujuan sebenarnya bukan mendapatkan uang damai, yang nilainya lebih kecil dari upah bulanan mereka. 

Dari sudut pandang saya, polisi berusaha mengedukasi pengendara ugal-ugalan agar tidak mengulanginya lagi, dengan cara memberi sanksi sebagai efek jera. Hukuman yang paling mudah adalah didenda sebesar Rp20.000,- s/d Rp50.000,- (dua puluh ribu sampai dengan lima puluh ribu rupiah).

Saya pikir ini masuk akal. Karena...

Gini gini, jumlah sel tahanan kan terbatas, jadi kalau dipenjara sudah jelas enggak mungkin.

Mau disuruh pulang ke rumah pun... Darimana pak polisi tahu kalau pengendara bandel itu beneran pulang ke rumah atau enggak? Masa mau dikawal? Malah jadi gak efisien. Jumlah polantas yang dikerahkan untuk mengatur tata tertib lalu lintas sangat terbatas, selain itu mungkin saja pak supir yang kena cegat memang sedang ada urusan mendesak. Yah, jadi sekali lagi, satu-satunya cara adalah dikasih sanksi berupa denda sejumlah kesanggupan orang tersebut.

Jadi sebenarnya, polisi itu baik atau jahat ya?

Hmmm, saya yakin enggak ada satu pun pengajar dan pelatih yang mendidik para calon polisi menjadi aparat yang jahat. Tapi, layaknya murid di sekolah. Ada saja siswa yang semaunya sendiri, suka bereksperimen, dan bereaksi lebih cepat sesuai situasi sehingga enggan menunggu persetujuan gurunya. Begitu juga dengan polisi.

Itulah sebabnya, citra polisi jadi enggak semanis dulu. Selama bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, anak-anak muda diajarkan untuk membenci polisi.

Polisi itu jahat. Keji. Berhati dingin. Gila duit. Kejam. Gak punya otak. Seenaknya sendiri. Gak bertanggung jawab. Dan lain-lain.

Padahal, itu kan hanya oknum. Benar gak sih? Sama halnya seperti umat agama lain memandang umat Islam. 

Hampir separuh dunia ini memandang Islam sebagai agama yang ditakuti, cinta peperangan, teroris, menebar kebencian, dan gemar mengkafirkan orang lain yang gak sepaham. Kalau sudah dianggap kafir, maka darahnya halal untuk ditumpahkan. Kalau sudah kafir, maka pasti masuk neraka.

Acap kali saya mendengar pemuka agama menghimbau untuk tidak tersinggung jika disebut sebagai kafir. Alasannya yaitu asal kata kafir adalah dari bahasa Arab, yaitu tertutup. Seperti homonim bahasa inggris yaitu Cover. Setelah itu, dimulailah cocokologi.

Cover --> Kafer --> Kafir.

Hmmm, saya berusaha menyampaikan ini dari sudut pandang saya.

Pertama, ya, saya akui. Benar bahwa jika ditinjau dari segi bahasa dan etimologi, kata kafir itu memang bukan bahasa yang keras. Sekali lagi, saya akui ini benar adanya.

Namun, saya juga sangat memahami, bahwa yang membuat seseorang itu naik pitam karena dikatai kafir bukanlah ucapan kafir itu sendiri. Melainkan, "akibat atau konsekuensi menjadi kafir." Benar kan?

Bukankah di Surat Al-Baqarah sangat jelas ditulis bahwa orang-orang kafir kelak pasti masuk Neraka? Bukan hanya sekedar menjadi masuk Neraka lalu jadi penghuninya selama beberapa dekade saja, melainkan kekal selamanya di Neraka.



Lantas bagaimana hubungan antara Polisi dengan Islam? Apakah baik-baik saja?

Berdasarkan pengamatan saya, hubungannya semakin tidak harmonis.

Di dalam kesatuan polisi tersebut masih ada yang baik. Mungkin di antara mereka adalah kerabat jauh kita atau saudara kita. Dan di antara mereka juga ada yang seiman dengan kita.

Sebagaimana kelompok kita tidak ingin dibenci oleh orang-orang dari kelompok seberang, bukankah lebih indah kalau kita memandang oknum-oknum yang memang tidak waras tersebut dari sisi personil saja?

Polisi jahat lebih terlihat di permukaan karena media menyajikan sisi yang memang ditunggu-tunggu oleh para pemirsanya, yang penasaran mengenai fakta tersembunyi dan menggemparkan.

Teroris yang kebetulan beragama Islam, maupun radikalis yang juga kebetulan saja beragama Islam lebih terlihat dibandingkan umat Islam yang santun, baik, toleran, akhlaknya mulia, cerdas, dan berpikiran terbuka.

Polisi baik. Polisi jahat. Seperti apa sosok polisi yang kamu tahu?

Komentar