Apakah Tuhan Bisa Menciptakan Batu Yang Tidak Bisa Dia Angkat?

Adakah benda terberat yang pernah diciptakan oleh Sang Maha Pencipta di dunia ini? Dan apakah Tuhan bisa menciptakan batu yang sangat berat sampai-sampai diri-Nya sendiri pun tidak akan pernah mampu mengangkatnya?

Boleh jadi, bagi Anda topik ini merupakan suatu kemubaziran untuk dijadikan pembahasan. Kemudian, beberapa orang yang membaca tulisan ini akan berkata, "di saat orang-orang Jerman sedang berseteru tentang eksistensi LGBT. Di saat orang-orang Cina sibuk memikirkan cara menguasai pasar global, dan orang-orang Korea sedang mengangkat isu perang dunia ketiga, lalu Anda mengajak saya berpikir tentang Tuhan yang mengangkat batu?"

I am sorry, but it is not a joke.

Bagi saya pribadi, keberadaan tentang batu yang mustahil bisa diangkat oleh Tuhan merupakan hal yang substansial. Itulah mengapa, ini menjadi pertanyaan yang dengan jawaban yang ironi. Sepandai-pandainya kita menjawab, baik secara straight to the point (bisa/tidak bisa) maupun dengan bertele-tele (ngeles ke sana ke mari bahkan malah balik nanya), jawaban sebenarnya yang ditunggu hanyalah, "bisakah Tuhan melakukannya, atau tidak?"

Seandainya, kita berikan jawaban, "Ya, Tuhan bisa menciptakan batu terberat yang bahkan diri-Nya sendiri pun tidak mampu mengangkatnya", maka kita, sebagai seseorang yang wajib mengimani kebesaran-Nya, telah mematahkan dua sifat-Nya yang agung, yaitu Maha Kuat dan Dia bukanlah Zat yang lemah. Kemudian jika kita menjawab, "Tidak akan pernah ada batu yang seperti itu", maka satu kebesaran-Nya pun juga telah kita tiadakan, yaitu sebagai Sang Maha Pencipta.

Lalu, apa jawaban terbaik? Mari kita pikirkan dan renungkan dengan teliti. Tapi saya ingatkan kepada Anda untuk tidak berimajinasi, apalagi berkhayal.

Jika kita mencoba memberikan respon yang ambigu (tidak jelas), yaitu "Tuhan tidak akan menciptakan hal-hal demikian." Maka, sejujurnya kita hanya mengundang pertanyaan selanjutnya, yaitu "Kenapa?"

STOP! Jika Anda adalah salah satu dari orang-orang yang ambigu, sebaiknya Anda hentikan membaca tulisan ini, karena saya yakin bahwa 80 persen reaksi Anda dan orang-orang yang seperti Anda adalah "Buat apa?" atau "Ngapain Tuhan menciptakan yang seperti itu?"

Saya mewanti-wanti Anda untuk berhenti. Karena, respon tersebut hanya akan membunuh keimanan Anda suatu hari nanti (tidak sekarang tentunya, karena posisi Anda sedang defend). Namun, saya harus berterus terang kepada Anda, bahwa itu adalah jawaban yang goblok dan bodoh. Yang bisa jadi, sama bodohnya dengan esensi pertanyaan tersebut.

Sadar atau tanpa kita sadari. Segala hal yang diciptakan oleh-Nya, kerap kali mengundang pertanyaan, "Untuk apa Tuhan menciptakan ini/itu?"

Apakah Anda sudah memiliki jawabannya?

Sebaiknya, Anda jujur pada diri Anda sendiri bahwa apapun alasan yang Tuhan informasikan kepada kita, atau sedalam apapun hasil renungan yang kita peroleh, sejatinya tidak akan pernah membuat kita puas dan berhenti untuk bereksplorasi.



Contoh yang paling mudah dan paling dekat dengan kita adalah tentang eksistensi orang-orang jahat dan orang-orang baik. Atau, karena kita sedang berada pada konteks agama, maka makanan yang diharamkan merupakan objek yang paling tepat.

Apakah Anda tahu bahwa bagi umat muslim, babi merupakan binatang yang diharamkan oleh Allah untuk dikonsumsi? Kemudian, bagi penganut agama kristen, babi hutan dengan kuku yang terbelah juga diharamkan untuk dimakan?

Tuhan mengharamkan binatang-binatang tersebut, tapi tetap diciptakan. Untuk apa? Dan, banyak larangan dari Tuhan, tapi keberadaan tetap saja ada. Lalu, buat apa semua itu? Tunggu dulu. Tolong tahan dan pegang jawaban Anda. Kita akan ungkapkan bersama-sama.

Kasus lainnya adalah, jika ada orang yang berbeda keyakinan dengan kita, maka secara otomatis, kita akan bertanya, "kenapa sieh Tuhan tidak menjadikan semua orang berada pada satu kepercayaan saja?" It has the same meaning as, "kenapa Tuhan menciptakan agama yang berbeda-beda?".

Sebagai umat Islam, maka sudah sewajarnya jika memiliki pemikiran bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah. Satu-satunya yang diakui dan datangnya hanya dari Allah. Sedangkan, agama selain Islam, yaitu Kristen, Katholik, Budha, Hindu, Shinto, dan lain-lainnya merupakan agama bullshit. Buatan manusia.

Padahal mereka yang memeluk agama Kristen, atau Katholik, Budha, Hindu, atau penganut kepercayaan lainnya juga didoktrin hingga yakin bahwa keyakinan dianutnya merupakan ajaran yang datang dari Tuhan-tuhan atau Dewa-dewa mereka. Kemudian, mereka juga berpikir bahwa Islam itu juga bullshit dan hanya diada-adakan oleh manusia.

Sejarah mana yang bisa memastikan bahwa agama-agama yang ada di dunia ini buatan manusia, setan, iblis, atau demit? Bukannya semua yang terjadi juga atas kehendak-Nya? Tidak akan pernah ada yang tahu, dan tidak akan ada yang bisa membuktikan kebenarannya, kecuali kita semua sudah mati. Oleh karena itu, ajaran agama manapun selalu menerapkan kata "iman" sebagai suatu ekpresi yang menjelaskan keyakinan yang hanya dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu yang hanya bisa dibuktikan di masa depan, sekalipun harus melewati kematian.

Selain itu, pertanyaan "kenapa Tuhan menciptakan ini dan itu?", juga "kenapa Tuhan melakukan ini dan itu?" adalah karena semuanya sudah tersedia, sudah ada, dan sudah pernah terjadi. Jika belum ada, atau mesih tersembunyi keberadaanya, maka yang jadi pertanyaan hanyalah, "bisa atau tidak bisa?" dan "ada atau tidak ada?"

Sebelum kita lanjutkan, sebaiknya kita mengingat ini. Ketika Anda mengatakan Anda bisa menilai kualitas seseorang dari pertanyaan yang dia ajukan, maka Anda juga bisa dinilai oleh orang lain melalui jawaban Anda.

Dan ketika Anda berpikir apa yang Anda yakini itu benar, sedangkan orang lain salah. Maka orang lain pun juga bisa mengatakan dirinya benar dan pemahaman Anda telah salah. Tapi jika Anda berasumsi bahwa semua benar atau semua salah, maka Anda telah mematahkan konsep kehidupan Hitam dan Putih, Yin dan Yang, juga adanya Kanan dan Kiri.

Lalu, apa jawaban dari, "bisakah Tuhan menciptakan batu yang paling berat, dimana bobotnya tidak akan pernah bisa diangkat oleh Sang Penciptanya itu sendiri?"

Jawabannya, "tidak tahu". Why? Karena itulah kejujuran. Jawaban pastinya hanya diketahui oleh Tuhan itu sendiri. Jika Anda penasaran, Anda boleh menanyakan langsung kepada Dia. Jadi, silakan Anda mati dulu, lalu kalau Anda beruntung, Anda bisa dihidupkan kembali untuk menyampaikan jawaban dari Tuhan. Dan tentunya, dengan resiko tidak ada yang percaya dengan Anda, ditertawakan, dianggap gila, bahkan dituduh penyembah setan.

Stop! Sebaiknya Anda tidak memaksa saya untuk menjawab dengan jawaban Ya dan Tidak, karena saya memang tidak punya jawabannya, dan Tuhan saya tidak mengajarkannya.

Seandainya, Tuhan benar-benar menciptakannya, maka batu istimewa itu akan diletakkan dimana, agar kita mampu menyaksikan bahwa batu itu memang ada? Agar kita bisa mempelajari kemudian mengambil manfaatnya? Khususnya, apa benar ada yang percaya bahwa batu tersebut memang tidak bisa diangkat oleh Tuhan?

Sedangkan, pengetahuan seputar matahari pun, masih belum selesai kita pelajari. Kekayaan Bumi yang menjadi tempat kita hidup dan bermukim ini pun, belum selesai kita rampas. Luasnya galaksi juga belum bisa secara leluasa kita jelajahi. Bahkan, eksistensi hewan dan tumbuhan yang hidup di zaman purba pun, masih ada saja orang-orang yang tidak mempercayai keberadaannya.

Saya termasuk orang-orang yang mempercayai adanya dinosaurus. Dan, ada saja kelompok yang menafikan riwayat hidup dinosaurus, sekalipun dihadirkan tulang belulang binatang purba tersebut kehadapan mereka.

Lantas perihal a rock that God can't lift it, di dunia yang semrawut ini, Anda menginginkan jawaban Tuhan tentang batu terberat yang tidak akan pernah bisa Dia angkat? Apa Anda yakin akan ada yang percaya? Hehehe... Selamat bermimpi.

Komentar

  1. Setelah bertele-tele tubies ternyata jawabannya gak tahu.. hahaha.. kalau gak tahu ya gak tahu aja bro jangan ajak orang lain menjawab gak tahu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Iya, gan. Saya menghindari fitnah dan mengajak untuk menghindari fitnah. Karena pada dasarnya, dalam tulisan saya ini, Tuhan dijadikan objek. Padahal kita sendiri gak pernah ketemu Tuhan semasa hidup di dunia.

      Jadi, jawaban tidak tahu memang hal ilmiah paling jujur yang bisa dikemukakan. Semakin banyak belajar, maka semakin tinggi pula kesadaran kita bahwa kita tidak tahu apa-apa.

      Terima kasih ya, sudah membaca dan berkomentar... ^^

      Hapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?