Menjajal Profesi Font Author

Asyiknya ngelihat teman-teman Indonesia Envato Author (IdEA) upload dagangannya terus ke lapak Envato. Sesekali muncul di Facebook Timeline saya semacam keluh, kesah, desah, yang diselingi pertanyaan berselimut gelisah, seputar reject items. Hey! Tapi gak cuma itu saja tayangan teman-teman Indonesia Envato Auhtor (IdEA). Mayoritas author pro selalu membagi keceriaannya melalui status approved items.

Font Montana
Photo by myfonts.com


Dulu... Dulu banget. Beberapa tahun silam. Saya kenal Graphicriver dari sebuah buku di Gramedia yang ngebahas soal cari duit via marketplace. Dijelaskan melalui buku tersebut, ide-ide kreatif dan keahlian para graphic desainer bisa dijual melalui Graphicriver. Harganya pun variatif dan murah meriah. Graphicriver siap menampung kreatifitas para desainer mulai dari logo, isolated image, frame, kartu nama, brosur, dan font.
Excuse me? Font? Maksudnya, bisa juga jual-jual kayak Times New Roman, Arial, dan Verdana?

Yups! Bisa.



Malahan dari semua pilihan yang ditawarkan oleh Graphicriver, saya lebih tertarik untuk menjajal jualan font. Bukan karena kompetitornya sedikit. Melainkan saya belum pernah kepikiran sebelumnya buat jadi desainer font. Asyik ya? Kalau lihat hasil karya sendiri dipakai oleh orang lain. Gak perlu deh muluk-muluk mikir bakalan jadi populer atau masuk jajaran TOP Items. Asal laris manis saja, sudah cukup.

Sejak itu, ide untuk mendesain font bermacam-macam bentuk mulai memadati otak saya dari yang meliuk-liuk, kriwil-kriwil, bulet-bulet, sampai yang garang.

Perjalanan saya dimulai dari membaca tutorial-tutorial membuat font. Tutorial pertama saya adalah dari website ilovetypography.com. Artikel berjudul, "So You Want to Create a Font Part 1" memaparkan kebutuhan font desainer.
***

Senjata pertama dan paling utama adalah... IDE!
Gak punya ide. Gak tahu mau apa.
Photo by orangedonkey.net

Bener kan? Iya dunk. "Kalau gak punya ide, mau ngapain?"

Pertanyaan tersebut yang membuat saya sempat tertohok. Saya pikir juga gitu, iya juga ya? Kalau gak punya ide, saya bisa apa? Saya pasti gak bisa ngapa-ngapain. Habis saya gak kreatif sieh. Saya bisanya cuma make produk orang. Gak bisa bikin sendiri. Gengsi dunk jadi plagiat. Masa tega bener saya ngebajak karya orang lain demi kesenangan saya pribadi. Saya saja gak mau kok karya saya dibajak.

Trus... Saya lemes deh... Pudarlah sudah semangat saya untuk berkarya.

Tapi, bener gak sieh saya langsung ambil sikap kayak gitu? Tentu saja tidak! Saya bukan plagiat. Memangnya apa itu plagiat? Kalau semua desainer, penulis, atau orang-orang kreatif selalu di-warning masalah plagiat, maka karya seni ya cuma berhenti sampai di situ. Jangankan para pekerja kreatif. Agar bisa lulus sebagai sarjana, master, doktor, dan professor, mereka butuh referensi untuk menyelesaikan tesis. Comot tulisan dari sumber sana. Kutip dari sumber sini. Analisa. Tela'ah. Padu padankan. Selesai!

Lahirlah sebuah karya, yang katanya buah pemikiran. Maka, begitulah saya seharusnya.
***

Kemana ya ide harus dicari?
Loading idea
Photo by speckyboy.com


Carilah ide dengan banyak melihat, bukan malah semedi di kamar. Kalau cuma diam di kamar, sambil gelap-gelapan, nanti yang mampir bukan inspirasi tapi wangsit buat berlaku syirik kepada Allah Jalla Jallaluh.

Saya kadang menjadikan grafiti liar di kolong-kolong jembatan karya anak-anak sekolahan, sebagai salah satu inspirasi. Kadang juga, saya dapat inspirasi dari font uniknya Google. Atau, bisa juga dari logo-logo di kaleng minuman soda, botol minuman, atau bungkus kacang. Bahkan, tulisan di gerobak dagangan kaki lima pun bisa jadi inspirasi.
Lho kok bisa?!

Hey! Pertanyaan bukan gitu, melainkan: Lha ya kok kenapa gak bisa?

Bagi saya, untuk menghasilkan karya yang bagus, harus terbiasa melihat karya yang bagus juga. Apa yang biasa saya lihat, sentuh, rasakan, dan baca, akan menentukan selera di kemudian hari.

Okay! Then, lanjut ke senjata kedua.
***

Selanjutnya, siapkan software...
Wait! Ya Allah... Skill saya cupu. Bisanya cuma main game daripada ngulik software. Jangankan software buat bikin font, software buat bikin vector seperti Adobe Illustrator atau Corel Draw saja penguasaannya masih menuju 50 persen. Ada gak ya yang gampangan?

Ada dunk! Asal ada niat, ada jalan. Insyaa Allah.

Sehubungan dengan fakta bahwa satu-satunya software desain yang saya ngerti cuma Adobe Photoshop. Saya cari cara buat bikin font yang gak pake repot. Akhirnya, saya menemukan MyScriptFont.com.

Bikin Font Sendiri di Myscriptfont.com
Photo by www.techgyd.com


Gampang! Cuma modal download template, printer buat ngeprint template, pena, dan scanner. Terakhir, upload deh di MyScriptFont.com.

Selamat mencoba! Salam miaw.

Komentar

  1. udah ada yang di-approve font-nya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah belum ada yang rejected... :)

      Hapus
  2. Profesi baru, pastinya menyenangkan.
    Eh, thanks infonya. Sy baru tahu dgn MyScriftFont.com. Sy juga akan coba menjajalnya.
    Sekali lagi Thanks & Salam!

    BalasHapus
  3. bisa bikin font dengan tulisan tangan sendiri gak ya :D

    BalasHapus
  4. aku juga baru tentang masalah ini mbak mew,,,sepertinya oke punya nih menjajal font spt begituan,,

    BalasHapus
  5. Klo boleh tau jualan fontnya dimana? envato juga?

    BalasHapus
  6. id envato nya apa? mau liat portfolio nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. id saya: lutfia1313
      beli items saya ya! *ngiklan* :-d

      Hapus
  7. udah jadi submit ke fonts.com mew?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum oomanto... waktu pas mau submit kemarin saya diminta file-file aslinya kayak vector, font file (asli), de el el...

      Hapus
  8. Saya kemarin juga ada kemarin "Kalau bisa bikin font sendiri pasti keren yaa!!" ^_^
    Dan akhirnya setelah cari referensi sana-sini bisa juga!! Sempet nyoba pakek myscriptfont.com itu.
    Tapi kok hasilnya gak maksimal. Terakhir saya pakek software offline secara manual..

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?