Merampungkan Susah Menulis Mudah

Sore tadi sepulang dari Sentul, saya berbincang dengan novelis kenamaan di Amerika, Kristin Bair O'Keeffe, seputar penjiwaan dalam menulis. Bagi saya, menulis itu sama dengan berdakwah. Setiap pendakwah harus memiliki ruh, jika ingin ilmu yang disampaikannya bisa diterima, dicerna, dan diamalkan oleh para jama'ah. Tapi gimana caranya? Apa itu ruh menulis? Bagaimana cara mendapatkan ruh tersebut? Apakah itu yang disebut dengan bakat?

Tulis saja, dan selesaikan!
Photo by 5mins.wordpress


"Saya rasa kamu akan selalu merasa kesulitan kalau hanya berfokus ke sana." Demikianlah respon yang diberikan oleh Kristin Bair O'Keeffe, --semoga saya gak salah menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. "Saya gak punya bakat menulis, tapi saya berhasil menjadi penulis dengan banyak karya. Karena yang saya lakukan hanyalah melakukannya, bukan meneorikannya. Saya mengubah pertanyaan dari kenapa, menjadi bagaimana." Sambungnya lagi.

Saat membaca kalimat demi kalimatnya, kamu mau tahu gak, saya bilang apa ke Kristin Bair? Dengan pedenya. Dengan sok pinternya. Dengan sok kritisnya, saya tanya ke Kristin Bair, "Why?"



Yes! That's true. Saya ngeyel buat nanya kenapa. Saya tunggu beberapa menit. Sekitar tiga puluh menit sejak tanggapan terakhir saya, Kristin Bair belum membalas apapun. Akhirnya, setelah satu jam menunggu, dia balas juga, "Mew, pahami baik-baik ya. Saya mengubah pertanyaan dari kenapa menjadi bagaimana. Kamu pernah baca tulisan saya di absolutewrite.com atau kristinbairokeeffe.com?"

Di balik layar monitor ini, saya bergumam, "hmm nope... Eh, not yet."

Lalu, saya tanya, "tulisan yang mana?"

"Four Steps to Becoming a God(dess) of Literary Elements."

Pertama kali saya baca judulnya, dahi saya mendadak berkerut-kerut lantaran gak paham. Tapi, karena semangat belajar saya yang lumayan tinggi, --seenggaknya saat itu masih tinggi. Saya klik juga linknya. Dan, luar biasa!

"Cck cck cck..."

Sungguh hanya decak kagum yang keluar dari mulut saya ini, karena saya nyaris keblinger jika saja gak ada Google Translate.

Lha ya piye? Ketika saya bicara dengan Kristin Bair saja, saya berjuang setengah mati, setengah hidup buat menangkap esensi kalimatnya. Kemudian, ditambah dengan kosakata beratnya dalam artikel tersebut, dimana ilmu saya baru mumpuni untuk menerjemahkan satu paragraph, ke dalam satu kalimat singkat.

Tapi, bukan saya jika saya berhenti karena rintangan ringan semacam ini.

Ditulis pada artikel tersebut, bahwa ada empat tahapan dimana penulis membuat pembacanya bilang wow, menghela nafas, dan berdecak kagum.

Tahapan Pertama, Ceritakan saja.
Yups! Tampak gampang dan kelihatan sangat mudah dilakukan. Tapi pada prakteknya, memang gak sulit lho. Saya sudah praktek dan hasilnya, lumayanlah... Setidaknya, jika diukur sebagai draft atau konsep cerita. Awalnya, memang saya merasa kesulitan, karena dalam pikiran saya ketika mulai mengetik atau menulis adalah kalimatnya harus bagus. Intronya mesti menarik. Mesti puitis. Langsung aja sok romantis.

Namun, itu semua malah menghambat progress. Memang sieh, kalau bisa ditulis dengan kalimat-kalimat yang indah, romantis, puitis, dan menancap di hati pembaca, hal tersebut justru lebih baik. Tapi, jika yang terjadi adalah menjadi penyebab munculnya hambatan yang mestinya gak perlu ada, kenapa dipaksakan?

Tulis saja dulu. Ngomong saja dulu. Kalau susah nulis, kalau susah ngetik, coba ceritakan pakai mulut kamu, lalu rekam di tape rekorder. Atau, cari teman ngobrol, lalu ceritakan ide-ide brilian itu mulai dari awal sampai akhir, dan jangan lupa sebelumnya tekan tombol record.

Tahapan Kedua, Simpan, Lupakan, Buka lagi, Baca lagi, Review sendiri.
Rancu? Enggak kan ya? Bagian ini, saya yakin, mudah dipahami dan bisa langsung diterapkan.

Tahapan Ketiga, Lakukan Pengembangan
Setelah nulis draft panjang-panjang, coba kembangkan ceritanya dengan memperhatikan detail di bagian yang penting. Membaca tidak seperti menonton, sehingga pembaca biasanya lebih larut ke dalam imajinasinya.

Tahapan Keempat, Jangan Berlebihan
Kristin Bair O'Keeffe mengingatkan semua penulis untuk tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan kata. Yups! Sesuatu yang berlebihan memang cenderung membosankan dan melelahkan.

Nah! Wahai diriku, sudah siapkah diri ini menulis?

Komentar

  1. itu sama dengan membuat tesis atau skripsi dan makalah ya mbak

    untuk membuat sesuatu itu menjadi bagus, tentu kita harus menyusun dan menata agar tulisan kita tidak aak-acakan, apalagi hancur lebur tanpa bisa dipahami.

    maka saya setuju jika mbak mew mengatakan kalau merampung itu susah menulis ya mudah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mas, idealnya memang begitu :-d

      Hapus
  2. Yep, penulis memang harus jago memikat pembaca dengan kalimat pembuka. Terkadang gara2 itu juga, seorang penulis jadi suka dijudge. Contoh, kalau kalimat pembukanya nggak wow, langsung ditinggalkan. Padahal siapa tahu saja kan, isinya menarik banget.

    BalasHapus
  3. kalo menurut saya , bikin suatu tulisan itu seperti mudah , tapi ide untuk menuangkan nya yang sulit hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar tu mbak nefa, tapi kalau mau menulis, maka tulislah dengan ide yang kita sukai dan menajdi skill sekaligus hobi kita :D

      Hapus
    2. biasanya sulit pas diawal mbak.. tengah dan akhirnya kadang sulit juga... :))

      Hapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?