1206 Malam Kisah Pengantar Tidur

1206 Malam Kisah Pengantar Tidur


Apakah kamu tahu tentang kisah seribu satu malam dari Baghdad? Yaitu kisah tentang kecerdikan seorang permaisuri, yang berhasil menyelamatkan hidupnya, serta membebaskan belenggu masa lalu di hati Sang suami. Konon, desas-desus yang tersebar adalah, kekejaman raja dimulai sejak penghianatan istri pertamanya. Oleh sebab itu, raja tidak akan membiarkan perempuan mana saja, yang dia nikahi, untuk hidup lebih dari satu malam.

Kini, kisah seribu satu malam mesti saya lalui atas permintaan seorang calon suami. Hanya saja, jika putus cerita, bukan berarti putus juga leher saya. Atau, putus hubungan saya dengannya. Tidak, dia tidak begitu. Dalam telepon terakhirnya seminggu yang lalu, dia berpesan kepada saya untuk menulis sebuah cerita pengantar tidur. Setiap malam, cukuplah satu cerita. Katanya, anggap saja saya sedang mempersiapkan kisah-kisah indah untuk anak-anak kami, seandainya kami menikah kelak. Seandainya, Allah Jalla Jalaluh mengizinkan dia menjadi jodoh saya. Seandainya, Allah Jalla Jalaluh mempercayakan titipan dariNya seorang anak, atau bahkan beberapa anak. Seandainya... Dan, yaaa... Seandainya. Semoga saja pengandainya itu terwujud.



Katanya lagi, dia tidak bisa terlalu sering menghubungi saya karena kemampuannya yang terbatas saat ini. Namun, dia akan berusaha untuk mencari dan meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan saya. Dan, ketika saat itu datang, dia ingin saya menceritakan satu kisah terakhir karangan saya. Jika saya menyanggupi permintaannya, maka kisah-kisah tersebut janganlah sampai terputus, walau hanya semalam. Namun, jika saya sudah tidak sabar menunggu, maka tidak mengapa jika saya ingin menikah dengan pria lain.

Wahai Tuhanku yang Maha mulia, aku menyanggupi permintaannya. Maka, kisah ini pun dimulai...
***

Negeri Gajah Tanpa Gajah


Alkisah di sebuah Negeri Gajah yang tidak dihuni oleh para gajah. Namun, tidak ada gajah, walaupun hanya seekor. Negeri tersebut, justru ditinggali oleh sekumpulan manusia yang membenci gajah.

Buyut-buyut membenci gajah. Orang tua membenci gajah. Remaja membenci gajah. Anak-anak pun membenci gajah. Bahkan para bayi diajari untuk membenci gajah. Atau mungkin, calon bayi yang sedang dikandung para ibu, ikut-ikutan membenci gajah. Semuanya, tanpa terkecuali, kebenciannya terhadap gajah terlanjur menancap hingga mengakar selama puluhan abad.

Entah apa jadinya, jika mereka melihat gajah. Entah bagaimana geramnya, jika mereka mendengar berita tentang gajah. Entah semurka apa, jika mereka bertemu gajah. Yang jelas, mereka benci gajah, tapi tidak ingat rupa seekor gajah. Yang jelas, mereka hanya tahu, gajah berbadan besar, bertelinga lebar, dan memiliki hidung lebih panjang dari ekornya. Yang jelas, mereka mewarisi dendam nenek moyangnya kepada gajah.

Suatu hari, seorang bijaksana dari negeri jauh, antah berantah, terpaksa melintasi Negeri Gajah dengan berkendara seekor gajah. Keberuntungan tidak tahu dimana bisa diraih, kesialan menghadang di pelupuk mata. Gemparlah seisi negeri, mulai dari pelosok desa hingga ke tengah kota. Semua ingin tahu, "siapa dia dan membawa apa?"

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kebencian mereka terhadap gajah, mengubur dalam-dalam pengetahuan tentang gajah. Mereka bodoh tentang bagaimana itu gajah. Mereka hanya sanggup bermain dengan imajinasi kosong atas ciri-ciri gajah versi nenek moyang. Bahkan, penguasa Negeri Gajah pun sejatinya lebih bodoh daripada rakyatnya.

Kedatangan Sang bijaksana yang mengaku sebagai Abdullah, membuat raja memerintahkan Abdullah untuk segera menghadap ke Istana Putih.

Riwayat unik lagi mengerikan bagi para gajah di Negeri Gajah, membuat Abdullah waspada. Hatinya antara siap dan pasrah menghadapi sambutan Sang raja. Dia tahu, dia mengerti, dia paham, dia yakin, bahwa raja akan menanyakan perihal dirinya, kedatangannya, serta kendaraannya. Kesadaran Abdullah tersebut dimanfaatkan tentara setan untuk mengilhamkan pengetahuan-pengetahuan menyesatkan seputar gajah. Namun, Abdullah berlindung kepada Allah Jalla Jalaluh dari segala ucapan yang akan menggelincirkannya ke Neraka Jahanam.

Abdullah pun datang dikawal pasukan pengaman kota dengan menunggangi gajahnya. Dag dig dug jantung Abdullah, seirama dengan debar jantung rakyat Negeri Gajah. Bahkan, mungkin saja gajahnya pun ikut berdebar. Sepanjang jalan, Abdullah berusaha berprasangka baik. Dia menjernihkan hati dan pikirannya. Abdullah yakin bahwa, selama hatinya tenang, maka pertolongan Sang Maha penolong akan tiba tepat waktu.

Kemudian, sampailah mereka di gerbang pertama Istana Putih. Pintu gerbang pun dibuka...
***

Hai, teman-teman blogger dan pembaca. Gimana intro "1206 Malam Kisah Pengantar Tidur" barusan? Cerita tersebut dimulai dengan narasi dari seorang wanita yang diminta oleh calon suaminya untuk membuat kisah-kisah pengantar tidur.

Saya masih belajar berkisah, jadi jangan ragu-ragu atau sungkan untuk mengritisi gaya penuturan atau apapun itu yang ada di "1206 Malam Kisah Pengantar Tidur".

Tolong feedback-nya ya... Terima kasih.

Komentar

  1. saya sering mendengar kisah 1001 malam mbak, kalau kisah 1206 pengantar tidur sepertinya baru dengar ni heehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... iya mas... namanya juga masih ngarang :D

      Hapus
    2. tapi bagus kok mbak mew ceritanya, saya aja suka membaca cerita yang seperti ini, tambah deh ilmu kita :D

      Hapus
  2. hahaha..kreatip nih mbak mew,,,salut buat tulisannya,,,

    BalasHapus
  3. KERENNNN :), btw yang bagian2 atas itu beneran disuruh ama calonnya? :)),,ya semoga berjodoh ya mba...hehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamin.. aamin Allahumma aamin... memang saya udah ada calonnya alhamdulillah dan insyaa Allah...
      eh tapi tunggu tunggu, bukan.. :D bagian paling atas itu intronya... jadi kayak pembuka cerita begitu... narasi... :D

      Hapus
  4. Yah lumayanlah buat bahan dongeng ke anak. Hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?