Makanan Dan Transportasi Versi Green Hospital

Masih ingat prinsip green hospital? Recycles, reuses materials, reduces waste, dan produces cleaner air.

Sustainable hospital concept
Photo by inhabitat.com
Yaps! Masih ngebahas seputar green hospital. Secara terjemahan, "green hospital" lebih tepat jika diartikan sebagai "rumah sakit ramah lingkungan". Akan tetapi, kalau ada yang mengatakan "green hospital" adalah "rumah sakit hijau", sepertinya gak salah juga sieh. Hanya saja ketika pertama kalinya saya mendengar kata "rumah sakit hijau", yang terbayang dibenak saya cuma dua, yaitu "rumah sakit yang dicat berwarna hijau," atau "rumah sakit yang hijau secara natural akibat sentuhan seni melukis menggunakan mediasi lumut".

Sebagai pengetahuan tambahan, program green hospital awalnya diprakarsai dua tahun yang lalu oleh Wolfgang Sittel, Kepala Arsitektur dan Desain di Hospital Group Asklepios, Jerman. Lothar Doerr, Direktur Program Green Hospital, menilai rumah sakit berperan utama sebagai kontributor pencemar lingkungan terbesar, walau hal tersebut terjadi tanpa disengaja oleh pihak rumah sakit.
Bikin kaget ya?

Jadi, gimana ceritanya nieh? Dan sumber dari mana?



Sepintas memang gak masuk akal. Seperti yang saya ketahui, rumah sakit beserta jajaran staff-nya bertugas melayani masyarakat dalam mencegah dan menyembuhkan penyakit. Namun, jika saya merujuk kembali kepada produk limbah, sumber daya yang digunakan, dan konsumsi produk, maka rumah sakit memiliki peluang mempengaruhi lingkungan kesehatan baik upstream, maupun downstream.

Singkat cerita,  program green hospital dibentuk berdasarkan tujuh elemen penting, yaitu:
  • Makanan yang disajikan di rumah sakit;
  • Penggunaan air;
  • Limbah rumah sakit;
  • Ketersediaan energi alternatif;
  • Green building design untuk rumah sakit;
  • Efisiensi dan optimalisasi energi; Dan
  • transportasi baik di dalam, maupun sekitar area rumah sakit.
Secara nalar, saya bisa memahami enam dari dari tujuh poin tersebut. Contohnya, jika membahas tentang transportasi yang ideal beredar di lingkungan rumah sakit. Langsung terbesit dunk, macam-macam transportasi yang tidak menimbulkan polusi dan minimal menggunakan bahan bakar yang aman bagi lingkungan, bahkan tidak memerlukan bahan bakar sama sekali, seperti sepeda, skateboard, sepatu roda, becak, atau mobil berbahan bakar biogas.

Hospital food
Photo by djanstewart.blogspot.com
Lantas, bagaimana dengan makanan yang dijadikan indikator green hospital? Apakah mengadopsi prinsip 3RP (Recycles, Reuses, Reduces, dan Produces), berarti memanfaatkan kembali sisa-sisa makanan di piring pembeli dan pasien?

Haiss... Belum dibayangin aja, udah bikin kenyang.

Tentang makanan mendukung program green hospital tersebut, sudah saya tanyakan ke beberapa teman. Garis besarnya, mereka berasumsi, kemungkinan makanan yang disediakan atau ditawarkan harus memenuhi standard mutu gizi.

Okay. Jadi sampai sini, saya paham maksudnya. Makanan tersebut tidak hanya sehat, tapi juga nikmat.

Untuk menciptakan makanan sekelas itu, diperlukan teknik pengolahan yang hati-hati, sehingga sebagian besar gizi seperti kalium, vitamin B, dan mineral lainnya, tetap terjaga. Dan yang paling penting, gak pakai pengawet, sekaligus tanpa penyedap rasa. At least, menghindari penggunaan bahan-bahan kimia untuk campuran makanan, apapun alasannya.
Bantu saya beli susu hangat sebagai teman menulis artikel
Previous
Next Post »

What do you think? Share your comments below. EmoticonEmoticon