Di Dua Negeri Sang Pencipta

Memandang Dua Negeri Sang Pencipta
Photo by lookafteryoureyes.org


Duhai wanita, masihkah engkau bersengketa dengan hatimu yang nyaris saja tiada? Engkau tak lama lagi beranjak tua. Parasmu tidak akan kembali muda. Jiwamu pun dituntut dewasa. Maka, janganlah engkau kembali atau memaksakan diri untuk berlaku remaja. Sekali-kali, TIDAK! Katakan itu pada penguasa paradigma jelata. Serukan itu pada hingar-bingar dunia. Lantangkan itu pada masa-masa melata. Sekali-kali, TIDAK! Namun, pada kondisi apa? Untuk siapa? Entah mengapa? Lantas bagaimana?

Duhai wanita berselimut lara, masihkah engkau sebut-sebut namanya dalam setiap doa? Sudah terbebaskah dari sejarah menoreh duka? Sudahkah engkau temukan tumpuan yang engkau sebut bejana air mata?



Aku paham. Sabarlah. Hentikan menyemai kosakata rindu-sendu-sedan yang berderai-derai itu. Hentikan merajut tirai-tirai yang menghijab gemuruh itu. Kini saatnya engkau percaya dengan kekuatan doa. Doa yang mengantarkanmu pada pijakan sementara. Benar adanya, ini hanya persinggahan semata. Jika bukan kakimu yang melenggang hingga nampak jejak di bumiNya, maka tangan-tangan binasalah yang akan mengangkat kaki payahmu secara terpaksa. Agar apa? Tahukah kamu, mengapa? Agar ada seseorang yang juga bisa menjejakkan kakinya pada bekas yang sama, walau ornamennya tak lagi sama.

Ini salah siapa? Ini salah siapa? Begitulah engkau berkali-kali bertanya. Duhai wanita yang semoga takdirmu benar-benar hidup di surga, seribu kali pun kau bertanya. Apakah kunjung jua jawaban itu ada? Engkau latah terhadap dunia. Engkau terbelenggu dengan yang fana. Lantas berharap surga di dua negeri Sang Pencipta? Oh! Boleh saja. Namun, bersiaplah jika cawanmu tersimpan di antara raknya neraka.

Percayakan Pada Sang Maha Kuasa
Photo by ghaziaitizaz.wordpress


Duhai wanita yang tengah bercinta, yang hatinya masygul mabuk sebab romansa, percayakan semuanya pada Sang Maha kuasa. Dialah sebaik-baiknya pendengar manusia setengah dewa hingga yang nista. Dia tidak hanya sekedar pemilik nyawa. Dia tidak hanya sekedar penyeimbang nada. Dialah pelipur lara. Jika hatimu tengah bergumul pada bait-bait rindu nan syahdu. Jika panggilanmu belum sampai ke telinga Sang Raja. Jika mimpimu memang ingin bersamanya. Maka bukanlah dosa seandainya engkau sampaikan semua itu pada Zat yang cinta kasihnya masih saja kentara. Berharap saja, akan ada jalur yang terbuka agar mimpi bisa jadi nyata, kemudian engkau bahagia selama-lamanya. Di dua negeri Sang Pencipta.

Komentar

  1. mbak,,ini sebuah isi hati atau gimana,,kok tersirat rada sedih gitu ya,,atau lainnya,,,jangan2 di salah satu lembaran bukunya mbak mew ya,,,udah hampir selesai ta mbak mew bukunya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak dwiiiii..... =(
      iya mbak... aku rindu....

      Hapus
    2. oalaah mbak :D belum selesai.. duh malu deh saya.. :D
      masih nyisa 100 halaman lagi...

      Hapus
  2. ni sepertinya mbak lagi galau ya atau lagi kasmaran heehee

    BalasHapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?