Mbaaah...! Saya mau kawin...

Minggu demi minggu telah berlalu. Entah tepatnya sudah berapa minggu, saya meninggalkan dusun tempat Mbah Nestopo bermukim. Masih melekat dalam ingatan saya, bagaimana Mbah Nestopo menasehati saya melalui kisahnya yang memilukan. Yaitu, dimana simbah dan kekasihnya dulu, terbentur problematika cinta masa muda. Kalau dibahasakan sesuai kamus anak muda zaman sekarang, maka sebutannya adalah... Galau. Gundah. Resah. Gelisah. Ah... Sudahlah.

Sejatinya, saya sudah bertekad untuk tidak kembali menemui Mbah Nestopo, sejak beliau mengingatkan saya bahwa agama mengajarkan kepada pengampunya untuk selalu berserah diri kepada Gusti Allah. Terutama, ketika suatu permasalahan tersebut datang menyapa, maka alangkah baiknya jika Sang Maha kuasalah yang seharusnya saya hubungi terlebih dahulu. Saya jadikan tempat pertama kalinya curhat.



Wealaaah... Manusia... Manusia... Sekarang begini. Besok begitu. Lusa bisa lain lagi. Beginikah isi dunia?
"Duh! Gusti... Ya Rabbi... Bantulah aku, ciptaanMu yang lemah ini, untuk menjadi makhluk yang pandai bersyukur..."

*************
Seperti biasa, rumah Mbah Nestopo tidak pernah sepi pengunjung. Mereka yang datang ke sini, bisa jadi didominasi oleh pasien lama. Orang-orang dengan penyakit hati yang masih juga berani berjalan menapaki dunia.


*************
Tiba juga giliran saya berkeluh kesah di hadapan simbah. Jika dirasa-rasa, tampaknya saya telah menunggu hampir 4 jam hanya untuk bertemu dengan Mbah Nestopo.

Simbah keluar kamar sambil menenteng segelas besar kopi hitam pekat. Setelah kami saling menyapa dalam pandangan mengharu-biru, Mbah Nestopo mengajak saya ngaso di pelataran saung yang hanya berjarak tiga petak sawah dari rumah beliau.

Mbah Nestopo berjalan santai sekali. Timak-timik. Awalnya, saya kira Mbah Nestopo sekedar kumur-kumur, ternyata beliau sedang curhat:
"Sedihnya hidup di dunia ini nak, tidak seberapa jika dibandingkan ketika kita tidak membawa bekal untuk menunggu nikmat akhirat di alam kubur nanti."

Belum apa-apa, Mbah Nestopo sudah memberi petuah, sebelum saya menceritakan masalah saya. Mungkin beliau memang begitu ketika menghadapi pasiennya. Dan mungkin, Mbah nestopo paham kalau beliau sedang saya rasani:
"Seharusnya, manusia itu bahagia karena Allah adalah Tuhan yang baik sekali. Dialah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. 
Nak, di dunia ini, kita, para manusia, masih bebas menertawakan kesialan orang lain. Masih bisa berkarier jadi maling, tukang gunjing, penipu, pemalas, pezina, bahkan pemimpin yang dzolim. 
Allah pun masih membiarkan kita meremeh-temehkan teguran-teguranNya. Kita masih boleh berdagang dengan Sang Kholik atas peringatanNya: Ya Allah, jangan begini... Saya gak sanggup. Duh! Gusti... Jangan begitu... Saya gak kuat...
Jadi, hiduplah dengan hati yang lapang, nak..."

Ribuan persepsi berkecamuk dalam pikiran saya yang ruwet dan bundet ini. Ingin sekali saya adu argumen dengan simbah: Tapi bukan berarti lalu kita pol-polkan nafsu kita di dunia ini dengan berbuat dzolim, ya to mbah?

Ah... Tapi, siapa sieh saya ini? Hanya pria bau kencur, yang lahir kemarin sore, jika dibandingkan dengan Mbah Nestopo. Maka, apa lagi yang bisa saya sahuti selain: Iya mbah...



*************
Sawah di dusun Mbah Nestopo benar-benar melegakan hati saya. Tidak hanya sejuk, melainkan juga asri. Dimana-mana hanya ada: Hijau... Cokelat... Dan biru...

Pantas saja jika Mbah Nestopo betah menghabiskan masa tuanya di sini.

Saya pun duduk di saung berhadap-hadapan dengan simbah. Mata kami beradu. Entah tatapan apa yang beliau berikan, karena rasanya langsung menancap di batin saya yang syahdu. Tapi, daripada saya sibuk menebak-nebak kenapa simbah begini atau begitu... Lebih baik saya utarakan saja maksud kedatangan saya: Bismillah... Semoga simbah memahami perkara batin saya.
"Mbah... 
Saya berniat melamar pacar saya dalam waktu dekat ini."

Mbah Nestopo hanya senyam-senyum melihat saya. Mungkin dalam hatinya bersyukur juga, karena akhirnya saya gak lagi membujang. Tapi justru di sinilah masalahnya:
"Tapi pacar saya itu malah menolak rencana bahagia ini. 
Saya diminta untuk menunggunya sampai dia lulus kuliah dan bekerja. Padahal, sekarang saja dia baru masuk semester dua. Artinya, minimal saya harus menunggu sekitar 3 tahun lagi... 
Duh! Gusti... Saya harus bagaimana...?"

Wajah Mbah Nestopo mulai tekak-tekuk. Saya yakin, sebagai sesama pria, simbah paham betul kegelisahan saya. Simbah paham betul bahwa saya tidak ingin terus menerus terjebak dalam kemaksiatan. Maksiat hati. Maksiat lisan. Seluruh tubuh ini serasa bermaksiat jika saya terus menunda-nunda menikah, padahal Allah sudah mempertemukan saya dengan jodoh saya. Perempuan yang saya harapkan menjadi istri sekaligus ibu bagi anak-anak saya.
"Mbah... 
Kami sudah berpacaran selama 3 tahun lebih. Saya sudah merasa nyaman bersama dengan kekasih saya itu. 
Sejak kami melewati tahun pertama sebagai pasangan kekasih, saya selalu mencoba mengajak dia untuk menata masa depan kami. Saya sudah sering mengajak dia untuk mendiskusikan masalah pernikahan. 
Tapi dia selalu marah-marah... 
Dia bilang saya egois, maunya sendiri, gak pengertian, mau mengengkang dia melalui pernikahan, bahkan yang lebih parah dia menuduh saya menikahi dia atas dasar landasan nafsu biologis dan usia, bukan karena cinta. 
Kalau memang saya tidak cinta kepadanya, lantas selama ini cinta itu seperti apa, mbah?"

Saya sudah di ambang frustasi. Mbah Nestopo pun hanya manggut-manggut, dan sesekali nyeruput kopi. Tumben-tumbenan simbah diam saja. Saya jadi sangsi sendiri. Apakah simbah ini benar-benar memahami saya? Kenapa reaksinya malah datar-datar begitu?

Bermenit-menit, saya tungguin simbah bicara. Tahu kah kamu apa yang simbah katakan? Simbah cuma bilang: Nembung saja dulu.

Wealaaah... Innalillah. Simbah ini...

Jika saja Mbah Nestopo memahami karakter saya, yaitu saya gak suka pake acara nembung begitu. Maunya ya, kalau sudah punya calon. Lantas saya mantap dengan calon saya itu, ya langsung saja saya lamar. Jadi, gak perlu lagi ada acara tunangan. Walaupun begitu, bisa jadi Mbah Nestopo lebih paham alasannya ketika menyarankan hal tersebut kepada saya. Maka, saya lanjutkan curhatan ini:
"Bagaimana ya, mbah? 
Saya ini sudah yakin dengan pilihan saya. Saya sudah mantap. 
Lagi pula, apa bedanya pacaran dengan tunangan. Toh, kami tetap saja bukan mahram. Hanya berubah status, dari 'berpacaran' menjadi 'bertunangan'. 
Selain itu sudah tiga tahun lebih mbah... 
Ya kalau ditambah waktunya sampai dia lulus, apa ya totalnya malah menjadi 7 tahun lebih? 
Saya kok malah merasa dia gak mau menjadi istri saya. Apa dia malah lebih senang menjadi seorang pacar ketimbang menjadi istri? 
Sungguh saya iri, mbah. Gak habis pikir. Dikala banyak pria dikuyo-kuyo oleh kekasihnya untuk segera menikah. Eh, siapa sangka lamaran saya malah ditolak."

What is Love?
Photo by motivequote.net
Duh! Gusti... Ngomong apa saya ini? Kok jadi ngawur begini pemikiran saya?

Astagfirullah... Tega sekali saya berpikir yang tidak-tidak kepada calon istri saya tersebut. Padahal, harusnya saya berusaha memahami kecemasannya. Bukankah seseorang itu menolak sebuah itikad baik karena sebuah alasan?

Mungkin kehidupan setelah pernikahan adalah momok yang menakutkan baginya. Apa lagi ketika membayangkan anak-anak kami tidak bisa sekolah lantaran kekurangan biaya.

Ditambah, serangkaian pertanyaan seperti: Mau tinggal dimana? Besok makan apa? Pendidikan anak itu seperti apa? Orang tua yang baik itu bagaimana?

Sanggupkah saya?

Duh! Gusti... Ya Rabb... Saya jadi kuatir sendiri. Tapi, sungguh saya gak mau bermaksiat. Lha?! Lalu, kenapa juga simbah daritadi cuma diam saja? Piye to Mbah Nestopo? Mbok ya ngomong to, mbah... Ngomong...


*************
Di kala saya sedang asyik-asyiknya menenggelamkan diri ke dalam kubangan gelisah. Akhirnya, Mbah Nestopo mau buka mulut juga.

Saya pantengi beliau. Saya tungguin nasehat berharga darinya. Rasanya gak sabar menunggu, kira-kira apa yang akan Mbah Nestopo katakan?

Eh, tapi kok ndelalahe Mbah Nestopo buka mulut ternyata cuma buat menyuapkan klepon ke dalam mulutnya. Hwalaaah...! Ampun, Gusti. Ampuuun...

Mugi Gusti Allah paring pangapunten dumateng kito sami. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kita dan seluruh umat.


*************
Kalau bukan karena simbah berdehem tiga kali, dan bilang, "Iya, nak. Saya paham." Pasti sekarang saya sudah pamitan. Jadi, kira-kira begini tanggapan Mbah Nestopo:
"Nak, sejatinya wanita itu memang rumit. Pikiran dan perasaan mereka bisa mengembara kemana saja, dalam situasi yang tidak terduga. 
Siang ini mungkin menolak lamaranmu. Bisa jadi, begitu malam tiba, ketika dia lagi sendirian, sunyi dan sepi, dia akan merasa menyesal atas ucapannya. 
Kalau kata eyang putri saya dulu: Segeralah menikah, sebelum menikah itu disegerakan. 
Saya ini gak bisa menasehati kamu apa-apa. Nak, Dialah satu-satunya pemilik hati kekasihmu itu. 
Kembalilah ke kota. Baca bismillah. Pasrahkah kepada Allah mengenai perkaramu. Temui lagi dia. Temui orang tuanya. Utarakan maksudmu. InsyaAllah, segalanya akan menjadi baik bagimu dan bagi kekasihmu. 
Yang penting itu 'yakin' dan 'tegas'. Yakin Gusti Allah sudah mengatur ini semua. Sisanya, tegas kepada diri dan agamamu sendiri. Paham?"

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengen ga ninggalin jejak tapi ndak bisa, hehe, jempol buat mew :) (o)

      Hapus
    2. hihihi... :) hai juga sistaa.. :D
      duh, cantiknya... :D apa kabar? :D

      Hapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?