Bang Rhoma Irama Mendadak Capres

Ada-ada saja kelakukan pelaku politik belakangan ini. Makin hari, makin nyentrik. Sudah gak malu-malu lagi mengumbar niat yang rada kemaruk.

Ready for the next election?
Photo by agungpuma.blogdetik
Lain hal saat zaman Pak Harto dulu. Selama 32 tahun Pak Harto memegang tampuk kekuasaan, tidak pernah sekalipun terdengar kekonyolan suara pemerintah. Yang nampak hanya... Wibawa. Susila. Tabula rasa. Sebagaimana warisan warna tahta Sang mantan presiden pertama Republik Indonesia, Bapak Soekarno.

Belum habis masalah tutup aurat, sudah cetak headline baru bertajuk syahwat. Tapi, bukan Indonesia namanya kalau gak gampang terlena gara-gara dihembus angin segar. Wajar. Memang beginilah wajah karismatik bangsa tatkala berlaga di depan media. Bikin perkara, lantas berlagak dewasa.

Tenang... Ini belum seberapa. Karena media sedang ruyam gara-gara capres dangdut.

Maaf? Gimana?? Coba tolong diulang lagi kata-katanya? Capresnya Inul Daratista? Oh, bukan... Sesuai tema, dan hanya soal waktu untuk mengangkat lagu Bang Rhoma Irama... //--Sok bisa denger komentar pembaca...

Mulai dari kalimat ini, saya mengajak kamu mengarungi bahtera --rumah tangga? Maaf, pria single, akan ada sesi khusus untuk membahas masalah rumah kolong langit tapak aji mustika membhumi ghaya panca rana bersama saya.

Back to topic. Dadu politik kini bergulir ke arah pedangdut legendaris Indonesia. Siapa lagi, jika bukan Bang Rhoma Irama?



Saya hanya tidak habis pikir, kenapa kelihatan berat sekali masyarakat menerima Bang Rhoma Irama untuk naik pentas? Bukan kah beliau punya hak yang sama untuk naik mimbar seperti... Farhat Abbas misalnya? Apakah hanya karena beliau Raja Dangdut? Kesatria Bergitar? Power Ranger-nya Soneta Group? Padahal, siapa pula yang dulu mengelu-elukan Bang Rhoma Irama sampai janji setia untuk mendukung secara penuh jika beliau jadi presiden?

Memang sieh, kalau dibayangkan, entah bagaimana malunya punya presiden dangdut. Tapi, coba deh pikir-pikir lagi. Bang Rhoma Irama masih bisa dibilang mendingan daripada Vicky Nitinegoro Cokroaminoto. Eh, maksudnya... Vicky Prasetyo, artis gagal ngetop yang notabene sukses mevikinisasi Bahasa Indonesia.

Saya bukannya fanatik ya... Netral saja.

Jika mengintip sejarah pencalonan capres dan cawapres 2014 ala rakyat. Duet maut Jokowi-Ahok termasuk populer karena selalu dituding maju pilpres. Sekilas kinerja beliau-beliau ini memang apik, rapi, santun, vokal, dan memikat. Hanya saja, kelemahan bapak bintang kejora itu adalah sedari kecil hobinya main air.

Mungkin... Hanya perkiraan saya belaka saja ya... Tidak menutup kemungkinan, menjadi pemadam kebakaran merupakan cita-cita mulia Jokowi-Ahok. Baik Jowoki, maupun Ahok, doyan semprot-semprotan. Itupun, masih tergolong untung, karena sedoyan-doyannya beliau nyemprot wartawan, gak bakalan sampai keluar gas metana. Coba deh bayangkan, baru jadi gubernur DKI Jakarta saja sudah gemar mendatangkan hujan lokal. Gimana kalau jadi presiden? Bisa jadi, banjir bandang menghajar Kepulauan Indonesia.

Nama "Ahok" sejatinya tidak diisukan maju mendampingi Jowoki. Justru, beredar kabar Megawati berniat maju lagi dalam Pemilu 2014. Kali ini, lebih seru karena beliau akan menggandeng Jokowi. Jika itu benar, maka hanya satu pertanyaan saya: "Apakah nenek yang polahnya luwes itu belum kapok juga ditipu oleh --yang katanya, fans PDI Perjuangan, ya?"

Mari kembali menilik bilik-bilik hati Bang Rhoma Irama, karena bagaimanapun juga, Bang Rhoma Irama membawa mimpi, visi, dan misi yang jelas sebagai calon pemimpin bangsa, diantaranya yaitu:
  1. Bagi para remaja yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah. Pemilik darah muda yang maunya menang sendiri, walau salah tak perduli. Bang Rhoma akan menetapkan aturan untuk tidak begadang, kalau tiada artinya. Karena... Bheghadhang bouwleh sajha... Khalauw adhya pherlunya...
  2. Sedangkan, bagi orang yang tidak mampu. Mau ke pesta tapi tak beruang. Daripada nongkrong di pinggir jalan. Bang Rhoma mengajak rakyat untuk ajojing massal. Begadang sambil berdendang. Biar tidak punya uang, asal masih bisa senang.
  3. Jika selama ini, figur pemerintah mendadak populer karena tingkah yang khas elit politik banget. Contohnya, Pak SBY gemar main perasaan dimana keprihatinannya sedangkal lautan, sedalam alam raya. Atau, Pak Jokowi yang doyan main air. Maka, Bang Rhoma Irama siap sedia menunjukkan keunikannya dalam berpolitik bahkan sejak kampanye, dengan ber..gi..tarrr..

Okay. Then, pilih mana? Pemimpin yang doyan "main air", "mainin perasaan", atau "ngegitar"?
Bantu saya beli susu hangat sebagai teman menulis artikel
Previous
Next Post »

7 Blogger Comments

Write Blogger Comments
endang fitria
AUTHOR
December 19, 2013 at 4:03 AM delete

Panggung negeri bedebah memang selalu cari sensasi, terlebih yg konon merasa punya nama di panggung hiburan, akan berlomba2 berebut tahta kepemimpinan bangsa, sah sah saja sieh...tapi sudahkah kita berbuat yg terbaik tuk negeri tetcinta ini?

Reply
avatar
Mew da Vinci
AUTHOR
December 19, 2013 at 1:10 PM delete

Itulah dia masalahnya jeung...
tidak ada tolak ukur yang jelas dan pas untuk menilai "kontribusi kepada bangsa"....
bagi mereka yang sudah kadung tenar, merasa sudah berbuat banyak... :-?

makasih ya jeung, udah mampir x-)

Reply
avatar
Lozz Akbar
AUTHOR
December 20, 2013 at 3:25 AM delete

Emang kenapa jika Rhoma Irama? hahaha

saya pilih dia deh kalau nanti bener maju jadi capres. alasannya? karena saya suka dangdut.. itu saja hahaha

Reply
avatar
Mew da Vinci
AUTHOR
December 20, 2013 at 9:29 AM delete

bisa aja oom lozz akbar ini :-d

Reply
avatar
sayurs
AUTHOR
December 21, 2013 at 9:35 AM delete

btw, yang diwacanakan nyapres tuh Jokowi (bukan Jokowi-Ahok) sedangkan yang suka "main air" itu Ahok (bukan Jokowi-Ahok) :p *u know what i mean*

Reply
avatar
Mew da Vinci
AUTHOR
December 21, 2013 at 10:54 AM delete

i know what u mean....
sayyuuuuuuurrrrrrrrr... *dorong gerobak* $-)

Reply
avatar
LAdangduters
AUTHOR
December 27, 2013 at 8:47 PM delete

wuih ada yang ngerasanin saya di sini nih... 8-)

Reply
avatar

What do you think? Share your comments below. EmoticonEmoticon