Menulis Itu Membosankan

"Plus, gak gampang."

Seharusnya, saya tambahin juga kalimat terakhir di atas pada judul artikel ini, karena jelas-jelas merupakan resiko penulis. Apanya sieh yang ditulis saja meski gak nyastra? Bukankah rata-rata pembaca haus akan keindahan tulisan? Yaitu, memiliki ruh, memahami peletakan posisi titik dan koma, serta memiliki keteraturan berbahasa.

Menulis gak segampang garuk-garuk kepala, bukan begitu?
Parahnya, menulis itu membosankan!

Setiap penulis, termasuk saya, secara sadar maupun tanpa disadari dituntut untuk selalu kreatif, segar, dan prima. Bisa jadi karena saban hari menatap layar monitor dengan kanvas putih, bersih, mengkilap, kinclong, dan CLINGGG! Bagi saya, kisaran tiga hingga lima bulan, saya masih semangat nulis. Seakan kepala dipenuhi oleh ide-ide inovatif dan original. Jemari mendadak gatal saat merasa dihambat untuk menuangkan kata-kata ke dalam kuali tinta. Tapi, ada kalanya juga saya merasa mampet. Buntu. Malas. Gak mood. Passion of write is going down. Mendadak dapat stempel "Penulis galau".



Balik lagi ke judul permasalahan.

Whooaaaammmmm
Photo by yatinjpatel.com
Sekali lagi, dan lagi-lagi saya ketik ulang bahwa menulis itu membosankan! Kadang bikin ngantuk.

Aktivitas menulis membuat dunia seakan bergerak slow motion dan sangat detail. Saking detailnya, bahkan adegan rambut rontok pun bisa diimajinasikan dalam kepala saya, seperti ada berapa helai yang jatuh ke lantai, jumlah helai rambut yang terbang tertiup angin, dan helai rambut bagian mana saja yang tampak menggelayut bersama rambut lainnya.

Agar mampu menuliskan itu semua, dibutuhkan kecepatan tangan melebihi kecepatan berpikir hati dan otak. Dan, kemampuan inilah yang disebut sebagai kesusastraan. Atau, kemampuan berbahasa.
Siapa bilang menulis gak butuh nyastra?

Bahasa kasarnya, siswa playgroup bisa menulis. Namun, belum tentu tulisan tersebut bisa dibaca.

Maka, mendingan jangan jadi penulis deh! Kalau gak berani original.

Komentar

  1. Eng ing eng...Entah nyastra atau ndak, bagiqhuw yang penting nulis saja. Dengan menulis sudah mereward dan mensupport diri sendiri unthuk majhuw. Nulis dengan tujuan Gak butuh pengakuan n royalthiw dari orang lain.

    Kalau "orang lain" menganggap tulisan kita gag muthuw, ini hanya masalah syirikisasi plus selera pembhaca yg kurang saja. Masih ada beratus2 juta orang lain diluar dimensi yang membaca sedikit,menghimbau atau sekedar mampir mengucap "trims gan!, infonya sangat membantu" (walau cuma Bot iklan sabun). ithuw sudah bersyukur sekhaliw ..Miawmuah...

    Knapa miaw tidak cemungud menulis? berucaha menulis untuk tidak sekali-kali terpengaruh orang lain ajjah..miaw..saya juga newbie kug..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah! dikunjungi blogger senior.. :-d
      =)) jadi miaw-miaw gitu bahasanya kang heru.. TOSSS! cheer

      Hapus
  2. Balasan
    1. uhui...

      menulis itu gampang kok mbak.. cuma soal disiplin untuk menggerakkan kita untuk menulis aja yang sulit...

      Bukankah rata-rata pembaca haus akan keindahan tulisan? Hehehe tulisan sastrawan meski indah blum tentu pula bisa dimengerti maksudnya mbak. Jadi apa bedanya dengan tulisan anak playgroup ya?

      Segala sesuatu itu ada proses mbak.. alon-alon. Dipahami lagi yak artikel saya itu ditujukan buat siapa..

      salam kenal

      Hapus
    2. Ehehehe... :-) empunya artikel "tulis saja meski gak nyastra" mampir ke mari... :-d

      Salam kenal juga mas Lozz Akbar :D

      Hapus

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan setelah membaca tulisan ini?